21 Oktober 2026
Tyla Manifestasikan Jejaknya di Panggung Musik Global dengan Penuh Keyakinan
PHOTOGRAPHY BY Jessica Madavo
styling Feranmi Eso; fashion Miu Miu; makeup Josh Bart; hair Virginie Moreira (MA+ Group); nails Nikki Panic (One Represents); set design Anna Grabowska
Tenang dan penuh keyakinan, Tyla tampak tidak terusik meski baru saja kehilangan paspornya. Padahal, sebagai bintang pop internasional yang tengah menjalani tur promosi album terbarunya, A*Pop, ia harus terbang berpindah dari satu negara ke negara lain hampir setiap hari. Namun, sang penyanyi mengaku memiliki kemampuan magis untuk mewujudkan keberuntungannya sendiri. “Ibu saya selalu bilang, ‘Tyla, bagaimana cara untuk selalu mendapatkan apa yang Anda inginkan?’” ia berujar sambil tertawa. “Percayalah. Sekali saja Anda menjalani hidup dengan keyakinan bahwa segala sesuatunya akan berjalan sesuai keinginan Anda, maka itulah yang terjadi.”
Belakangan ini, jadwal perjalanannya memang sangat padat, mulai dari India menuju Jepang, lalu Meksiko, hingga California. Kemarin, ia terbang dari Berlin menuju London dengan transit di suatu tempat di Eropa—pada titik ini, siapa yang masih bisa mengikuti jadwalnya? Namun ketika Tyla tiba di Britania Raya, paspornya yang penuh dengan visa—satu benda yang benar-benar tidak boleh ia hilangkan—tidak dapat ditemukan di mana pun.
“Saya tidak panik, tapi tim saya? Mereka hampir gila,” tuturnya penuh antusias sambil menyeruput sekaleng Sprite. Kami berbincang di ruang riasnya setelah sesi pemotretan sampul ELLE. Tubuh mungilnya dibalut jubah putih oversized berbulu lembut, dengan kilau glitter di area décolletage yang sedikit terlihat di balik kerahnya, serta sepasang sandal berbulu berwarna beige di kakinya. Ia kemudian bercerita bagaimana dirinya berhasil melewati pemeriksaan imigrasi dengan pesonanya sendiri (ya, saya tahu, hal seperti itu biasanya tidak pernah terjadi); hingga ia mendapat panggilan telepon dari bandara yang membawa kabar baik: paspornya telah ditemukan dan sedang dalam perjalanan kembali kepadanya (ya, saya tahu, itu juga biasanya tidak pernah terjadi).

fashion Miu Miu (jaket dan celana panjang).
Tyla, yang memiliki nama lengkap Tyla Laura Seethal, tersenyum. “Saya langsung berpikir, ‘Betul kan? Magic!’” Saat berbincang dengannya, kepercayaan diri Tyla begitu terasa. Namun, tidak ada ego atau sedikit pun kesan narsistik dalam dirinya. Lebih pada keyakinan bahwa apa yang kita berikan kepada dunia akan kembali kepada kita. “Menurut saya, kita bisa memilih untuk berpikir secara negatif atau positif,” tuturnya. “Jadi, kenapa tidak memilih untuk berpikir positif?”
Cara pandang inilah yang membawanya menuju ketenaran global. Perjalanannya dari seorang bintang yang tengah naik daun di Johannesburg, kota asalnya, menjadi musisi yang menduduki tangga lagu internasional terjadi begitu cepat.
Di usia 24 tahun, ia telah meraih dua penghargaan Grammy, tampil di Victoria’s Secret Fashion Show, menghadiri tiga ajang Met Gala, hingga tampil dalam ajang Piala Dunia FIFA. Ia bahkan memiliki boneka Bratz versinya sendiri. Tyla juga dikenal sebagai salah satu figur ekspor pop besar pertama dari Afrika Selatan, yang berhasil membawa irama amapiano khas negaranya ke arus utama musik global.
“Setiap lagu yang ia rilis selalu menjadi sebuah hit. Beberapa orang memang punya sesuatu yang istimewa. Ia terlihat begitu effortless dan autentik dalam caranya menjadi keren, karena rasanya ia tidak berusaha sama sekali—ia hanya menjadi dirinya sendiri,” ujar Zara Larsson, yang berkolaborasi bersama Tyla dalam lagu hit She Did It Again. “Menurut saya, seorang artis adalah seseorang yang mampu menciptakan sebuah vibe, suara, atau dunia. Lalu mengapa tidak ketiganya sekaligus? Bagi saya, Tyla melakukan itu. Ia sedang menciptakan jalurnya sendiri dalam musik pop, sebuah ruang yang saat ini belum ditempati siapa pun, dan itu yang membuatnya menarik.”
Lagu-lagu Tyla yang mudah melekat di kepala telah melahirkan berbagai tantangan lip-sync dan tren tarian di TikTok, sekaligus meningkatkan antisipasi terhadap album keduanya. “Arah album ini sebenarnya hanya tentang kebebasan dalam membuat apa pun yang ingin saya buat, dan tidak membatasi gagasan saya tentang seperti apa musik pop seharusnya terdengar,” jelasnya. “Impian saya untuk menjadi seorang bintang pop adalah impian yang sangat besar. Jadi, sekarang ketika seluruh hidup saya telah berubah, saya benar-benar ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi bintang pop seperti yang diinginkan Tyla kecil. Dan melakukannya persis seperti yang ia inginkan.” Bagi Tyla, musik pop Afrika Selatan pada dasarnya adalah musik pop.
Tumbuh besar di Johannesburg, rumah Tyla selalu dipenuhi musik dengan koleksi rekaman sang ayah yang diputar berulang kali. Daftar putarnya, yang mencakup musisi Afrika hingga R&B Amerika, hip-hop, dan house music, memberi Tyla pendidikan musik yang begitu luas. Selera musiknya pun berkembang sama beragamnya, mulai dari Voices milik Disclosure, The Worst oleh Jhené Aiko, At Your Best (You Are Love) dari Aaliyah, hingga Golden Lady karya Stevie Wonder. “Saya bukan tipe orang yang terobsesi dengan satu artis,” katanya. “Tapi kalau lagu? Saya bisa terobsesi dengan lagu tertentu dan berpikir, ‘Andai saja saya yang membuat lagu itu.’”
Dunia hiburan juga memikatnya melalui segala gemerlap yang ditawarkannya. Neneknya adalah seorang penyanyi yang kerap mendongengkan masa-masa awal kariernya kepada Tyla kecil, termasuk ketika ia mengikuti kompetisi demi memenangkan sebungkus rokok. “Bagi saya, kehidupan seperti itu terasa sangat menarik, seperti di dalam film. Rasanya tidak realistis. Dan mungkin itu yang membuat saya jatuh cinta dengannya, karena saya menyukai gagasan untuk menjalani hidup sesuka hati dan menjadikannya seperti dongeng versi kita sendiri.”
Sejak saat itu, Tyla kecil membuat mimpinya untuk menjadi bintang pop sebagai sebuah misi. Ia mulai mengunggah cover lagu-lagu favoritnya ke media sosial. “Itulah yang ingin saya lakukan. Ketika saya semakin besar, mungkin orangtua saya mengira saya akan melupakan keinginan itu. Tetapi kecintaan saya terhadap musik dan intuisi bahwa jalan inilah yang memang ditakdirkan untuk saya justru terasa semakin kuat.” Sebuah DM dari manajer pertamanya, Garth von Glehn, kemudian membuka jalan bagi video musik dan kontrak rekaman yang membuat namanya mulai diperhatikan industri musik Afrika Selatan. “Kami hanya orang-orang yang terus berusaha. Kami akan mencari cara agar semuanya bisa terjadi,” ia berujar.

fashion Miu Miu.
Kemudian, beberapa tahun setelahnya pada 2023, ia merilis Water, lagu yang mengubah segalanya. Dengan irama yang mengalun mulus dan mudah melekat, lirik yang catchy, serta video musik yang dipenuhi nostalgia era 2000-an dan koreografi sensual, lagu tersebut memiliki seluruh elemen ideal untuk menjadi sebuah anthem musim panas. Water kemudian menjadi sensasi viral dan melahirkan salah satu tantangan tren tari terbesar di TikTok. Mulai dari Jennifer Hudson, Teyana Taylor, hingga Remi Burgz dari Radio 1 turut melakukan koreografinya.
Produser dan penulis lagu asal Inggris, Sammy SoSo, yang bekerja bersama Tyla dalam kedua albumnya, telah melihat potensi tersebut sejak awal. “Ada kualitas seorang bintang dalam dirinya. Saya tahu suatu hari nanti ia akan menjadi sangat besar—dan itulah yang membuat saya tertarik,” ujarnya. “Ia pekerja keras yang luar biasa dan memiliki bakat istimewa. Ia juga benar-benar menyenangkan bagi orang di sekitarnya dan selalu menghadapi segala sesuatu dengan sikap positif. Kombinasi itulah yang benar-benar membuatnya menonjol.”
Bisa dibilang, masa tumbuh Tyla di era TikTok datang pada waktu yang sangat tepat. Platform media sosial yang telah mengubah cara remaja dan dewasa muda menikmati musik serta budaya pop ini menjadi wadah sempurna bagi musisi dan penari berbakat seperti dirinya untuk menemukan penggemar. Dengan irama yang mudah melekat dan lirik yang mudah dikutip, Tyla berhasil menemukan tempatnya sendiri. Berbeda dengan sejumlah rekan seprofesinya yang kerap menyuarakan keraguan terhadap media sosial, Tyla justru merasa nyaman berada di berbagai platform tersebut. Bagaimanapun, unggahan TikTok-nya yang produktif menjadi salah satu jalan yang membawanya menuju popularitas.
Ia menggambarkan proses membuat videonya dengan disiplin layaknya seorang atlet yang tengah berlatih. “Setiap hariiii,” katanya memanjangkan kata tersebut. “Saat itu saya belum punya ponsel, jadi saya meminjam milik ayah. Saya dan saudara perempuan saya bahkan harus bergantian menggunakannya.” Hingga kini, halaman TikTok-nya tetap terasa menyenangkan dengan tampilannya yang tidak terlalu dipoles. Video behind-the-scenes yang lebih rapi berdampingan dengan rekaman sederhana Tyla dan teman-temannya menari di kamar tidur. Salah satu komentar penggemar baru-baru ini bahkan berbunyi, “Saya suka bagaimana Tyla mengunggah sesuatu seolah-olah dia bukan orang terkenal.” “Sejujurnya, saya melakukannya untuk diri sendiri,” jelas Tyla. “Banyak orang berusaha terlihat keren, padahal ini menyenangkan. Kenapa tidak bersenang-senang sedikit?”

fashion Miu Miu.
Meski demikian, ia juga harus menjalani proses tumbuh dewasa di hadapan publik, sekaligus menghadapi berbagai gelombang kritik yang menyertainya. Tyla telah menjadi salah satu representasi global bagi musik dan budaya Afrika Selatan generasinya, sekaligus salah satu bintang pop paling menonjol yang lahir dari benua tersebut. “Aneh. Rasanya seperti canggung,” katanya sambil kembali tertawa. “Masa transisi dari remaja menuju dewasa memang canggung. Sebagai perempuan, Anda mengalami begitu banyak perubahan—secara mental maupun fisik. Banyak perempuan bisa melewati fase itu di ruang mereka sendiri, di zona nyaman mereka. Sementara saya harus melakukannya di hadapan dunia. Awalnya, saya merasa tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun.”
Hal tersebut bisa terasa berat, terutama ketika sebuah kesalahan atau kesalahpahaman dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Tyla pernah mengalaminya beberapa tahun lalu ketika kontroversi muncul setelah ia menyebut dirinya sebagai “Coloured” dalam sebuah video TikTok. Di Afrika Selatan, istilah tersebut umum digunakan oleh masyarakat untuk mengidentifikasi diri mereka, tetapi dapat dianggap sangat ofensif di sejumlah negara lain, terutama Inggris dan Amerika Serikat, karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah rasisme. Saat itu, Tyla memberikan klarifikasi melalui media sosial. “Saya tidak berharap orang di luar Afrika Selatan, terutama mereka yang merasa tidak nyaman menggunakan istilah tersebut, mengidentifikasi saya sebagai Coloured karena saya memahami beban sejarah yang melekat pada kata itu di luar Afrika Selatan. Namun untuk mengakhiri perdebatan ini, saya adalah seorang Coloured di Afrika Selatan dan seorang perempuan kulit hitam.”
Dalam skala yang lebih luas, kontroversi tersebut menyoroti tantangan dalam memahami perbedaan perspektif lokal mengenai ras, rasisme, dan identitas di dunia yang semakin terglobalisasi. Namun secara personal, pengalaman itu menjadi momen yang menyakitkan bagi Tyla. “Awalnya, itu sangat membingungkan bagi saya sebagai manusia. Saya merasa, ‘Wow, saya tidak pernah menyangka bahwa mengidentifikasi diri saya sendiri bisa dianggap salah,’” ujarnya. “Saya tahu saya hanya mengatakan kebenaran. Saya tidak sedang berusaha melakukan sesuatu yang aneh.” Kini, setelah tinggal di Amerika Serikat, ia memahami mengapa videonya bisa memicu reaksi sedemikian besar dan telah berdamai dengan apa yang terjadi. “Setelah menghabiskan banyak waktu untuk memikirkannya dan melihat kembali semuanya, saya menyadari bahwa tidak ada jawaban yang benar untuk pertanyaan tersebut,” katanya. “Masalah ini jauh lebih besar daripada diri saya.”
Meski demikian, insiden tersebut tidak mengurangi rasa cintanya terhadap Afrika Selatan. Jika ada, pengalaman itu justru semakin memperkuatnya. Bagi Tyla, rumah adalah tempat yang sakral. Bahkan, momen konser yang paling membuatnya merasa, “Apakah ini benar-benar terjadi?”, bukanlah saat tampil di Coachella atau upacara pembukaan Piala Dunia FIFA. Momen tersebut selalu datang ketika ia tampil di tanah kelahirannya. “Saya tampil di arena di Cape Town dan Johannesburg, lalu berpikir, ‘Wow! Saya benar-benar seorang bintang pop Afrika Selatan!’” ujarnya dengan nada riang. “Orang-orang datang dan mendukung saya, dan dukungan dari rumah selalu terasa berbeda.”

fashion Miu Miu.
Lingkaran terdekat Tyla terdiri dari sahabat-sahabat yang telah tumbuh bersamanya serta keempat saudara kandungnya. Salah satu saudara perempuannya, Sydney, tinggal bersamanya di New York, sementara sang kakak laki-laki, Tyrese, ikut bepergian dengannya kapan pun memungkinkan. Ia juga memiliki seorang “teman dekat” yang ia sebutkan sambil tersenyum malu-malu, tanpa ingin menjelaskan lebih jauh selain bahwa mereka telah saling mengenal cukup lama dan bersama-sama menyaksikan bagaimana hidup mereka berubah.
Sebagai seorang bintang pop yang hampir selalu viral di media sosial, Tyla ternyata cukup tertutup dalam urusan pribadinya. “Saya selalu menjadi tipe orang yang menjaga kehidupan pribadi tetap privat karena menurut saya, menyenangkan memiliki hubungan seperti itu dengan diri sendiri,” ia bertutur. Ia juga sangat menghargai kemandiriannya. “Menurut saya, kita sering kali menganggap remeh pentingnya melakukan sesuatu sendiri, dan betapa menyenangkannya bisa melakukan sesuatu untuk diri sendiri.” Ia bahkan mengaku beberapa kali sengaja kabur dari pengawalnya. “Saya seperti, ‘Tinggalkan saya sendiri!’” ia tergelak.
Tyla juga kerap menyamar dan berjalan-jalan di New York tanpa dikenali. Ia bisa berjalan kaki selama berjam-jam, menaiki kereta bawah tanah, hingga naik kapal feri seorang diri. Ketika ditanya lebih jauh mengenai penyamarannya, ia menolak memberikan detail. “Nanti Anda memberi tahu orang-orang,” godanya. “Saat ini, saya bisa menjadi siapa saja.”
“Ketika menjadi seorang selebritas, terkadang Anda bisa terlalu tenggelam di dalam dunia itu. Anda mulai berpikir bahwa itulah dunia nyata, padahal bukan,” ujarnya. “Karena saya dulu bisa melihat industri ini dari kejauhan—sangat jauh, dari bagian paling selatan Afrika—saya melihatnya sebagai sesuatu yang tidak tersentuh. Sekarang ketika saya sudah berada di dalamnya, saya tahu perbedaannya. Saya tahu mana yang nyata dan mana yang tidak. Mungkin itu juga yang membuat saya sekarang bisa lebih santai dan bermain-main dengan dunia ini, tanpa menganggap semuanya terlalu serius. Karena sebenarnya, ini tidak seserius itu. Ada banyak hal yang jauh lebih serius terjadi di dunia.”
Tur dunia perdananya akan dimulai pada Oktober ini. Namun sebelum kembali menjalani kehidupan di atas panggung, Tyla berencana mengunjungi Hawaii untuk liburan singkat. “Hawaii adalah tempat yang selalu ingin saya kunjungi sejak kecil, dan era A*Pop ini adalah tentang memuaskan inner child saya. Kini saya melakukan semua hal yang dulu ingin dilakukan oleh Tyla kecil.”