LIFE

17 Agustus 2026

Asri Saraswati Bergerak Memberdayakan Masyarakat Pedesaan Lewat Sektor Pertanian Berbasis Di Yogyakarta


Asri Saraswati Bergerak Memberdayakan Masyarakat Pedesaan Lewat Sektor Pertanian Berbasis Di Yogyakarta

Hidup di desa tidak berarti tak punya daya juang dan menuai sukses dan memberi dampak positif bagi kehidupan sekitar. Asri Saraswati lahir dan besar di Jakarta, namun sejak 2013 ia membuat keputusan penting untuk pindah bermukim di Kabupaten Sleman yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Yogyakarta. Bersama sang suami, ia mengelola sebuah lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan petani. Asri Saraswati Iskandar menggagas dan mendirikan Agradaya sebagai sebuah lembaga dan perusahaan sosial yang mengembangkan sumber daya berbasis sektor pertanian di Desa Sendangrejo, Sleman, Yogyakarta.

Agradaya berfokus pada pemberdayaan petani rempah-rempah untuk meningkatkan potensi hasil tani lokal yang ada di desa. Upaya pemberdayaan yang dilakukan mencakup edukasi mengenai pertanian organik, manajemen lahan, dan pengolahan pascapanen. Misi dari pemberdayaan ini adalah meningkatkan nilai tambah pada produk rempah-rempah sehingga harga jualnya meningkat. Program pemberdayaan kali pertama dilakukan di wilayah perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Yogyakarta, pada 2016. Petani di beberapa desa di Menoreh sejak lama menanam rempah, namun menjualnya dalam kondisi basah kepada tengkulak dengan harga rendah. Asri kemudian mengajak para petani rempah untuk melakukan pengolahan pascapanen dengan mengeringkan rempah-rempah. Agradaya kemudian memperkenalkan solar dryer house, sebuah ruang pengering yang dilengkapi peralatan. Kini Agradaya telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 300 petani dengan total luas lahan pertanian rempah yang dikelola petani mitra Agradaya mencapai 50 hektar. Jenis rempah-rempah yang ditanam yakni jahe, kunyit, temulawak, cengkeh, kapulaga, secang, dan sebagainya.

Asri Saraswati melihat adanya berbagai potensi di desa-desa di Indonesia yang dapat dimaksimalkan, namun kebanyakan desa hanya berperan sebagai penyuplai bahan baku sehingga membuat desa berada pada rantai paling ujung dalam sebuah proses pembuatan produk. Hal ini dilihat Asri sebagai penyebab mengapa citra desa selalu miskin dan tertinggal. Ia kemudian memilih Yogyakarta sebagai basis pengembangan Agradaya karena Yogyakarta bak menjadi ‘rumah’ karena adanya kediaman milik orangtua Asri yang sudah lama tidak ditinggali yang kemudian dijadikan kantor atau pusat aktivitas lembaga Agradaya. Asri meraih gelar sarjananya di University Technology of Malaysia, studi Chemical Engineering – Bioprocess, pada 2011. Lulus kuliah, Asri mengikuti program Indonesia Mengajar dan menjadi guru bantu selama setahun di sebuah desa di Aceh Utara dengan akses sangat terbatas terhadap air, listrik, dan informasi. Pengalaman tersebut kemudian meningkatkan perspektif mengenai pembangunan pedesaan yang kemudian menginspirasi Asri Saraswati untuk bergerak dalam pemberdayaan masyarakat pedesaan.

Seperti apa kolaborasi Agradaya dengan petani untuk menciptakan produk pertanian yang lebih baik?

“Kami bergerak dalam bidang pertanian namun lebih kepada sistem agroforestri, yakni pengolahan lahan dengan fungsi produktif dan protektif dengan mempertahankan keanekaragaman hayati, ekosistem yang sehat, serta konservasi tanah dan air. Cara ini sering digunakan sebagai salah satu sistem pengelolaan yang berkelanjutan. Dalam pergerakannya, kami banyak menjalin kerja sama dengan kelompok tani perempuan. Namun sayangnya, kebanyakan orang masih melihat pertanian tidak secara utuh, sebatas persoalan subsidi pupuk dan bibit. Padahal bicara pertanian harus dilihat secara holistik, termasuk soal pascapanen. Dan untuk mencapai nilai optimum, perlu adanya standard operational procedure yang diajarkan melalui transfer knowledge dengan para petani perempuan agar dapat menghasilkan proses jahe, kunyit, dan temulawak yang sesuai dengan permintaan pasar.”

Bagaimana Anda memastikan kolaborasi Agradaya dengan petani lokal benar-benar adil dan saling menguntungkan, bukan bersifat eksploitatif?

“Secara teknis, kami memiliki anggota tim yang bertugas bolak-balik ke lapangan untuk mengecek kegiatan kerja sehari-hari. Kami juga menerapkan prinsip keterbukaan dengan mengadakan kegiatan ‘kumpulan’ di mana sejumlah ibu-ibu di desa memiliki aktivitas rutin setiap Kamis kliwon untuk berkumpul dan berdiskusi membahas produksi dan harga yang sudah pasti akan naik-turun. Dalam musyawarah ini kami juga bertukar pikiran dan pendapat dengan para petani perihal apa yang sebaiknya dilakukan apabila kondisi sedang menurun.”

Bagaimana Anda mengetahui bahwa apa yang Agradaya kerjakan telah membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan memberdayakan perempuan di pedesaan?

“Zaman dulu, mengolah simplisia (bahan alamiah yang digunakan sebagai obat, namun belum mengalami pengolahan apa pun dari bentuk aslinya) bukanlah hal yang lazim. Namun setelah kami berbagi ilmu dan sama-sama belajar, saya senang sekali mengetahui bahwa kelompok tani perempuan di Magelang kemudian punya inisiatif untuk memiliki brand sendiri lalu menjual produksinya di warung-warung sekitar ataupun di balkondes, sebuah program yang diinisiasi Kementerian BUMN di mana program in menyasar desa-desa yang memiliki beragam potensi untuk meningkatkan perekonomian desa tersebut.”

Tantangan apa yang dihadapi dalam mengembangkan usaha dan bekerja dengan masyarakat pedesaan?

“Ada kebutuhan untuk mencari orang-orang dengan skill set tertentu namun orang dengan kriteria yang kita inginkan kebanyakan adanya di kota besar seperti Jakarta. Karena kalaupun ada penduduk yang berpendidikan tinggi, seringnya mereka sudah pergi merantau tidak tinggal di desa. Namun hal itu sangat wajar karena ekosistem di desa memang belum mumpuni sehingga banyak orang muda yang memilih keluar dari desa. Padahal sumber daya manusia tidak harus dari kota-kota besar. Warga desa juga bisa bekerja dan berpenghasilan dengan baik. Dengan penghasilan yang baik, maka mereka tidak perlu keluar dari desa. Hal ini yang kami upayakan karena kami ingin menjalankan bisnis dengan memberdayakan warga desa. Dan buat kami, menjadi tantangan untuk melatih anggota tim yang berasal dari desa-desa, menjalin kerja sama dengan sumber daya manusia di Yogyakarta termasuk sejumlah lulusan Universitas Gadjah Mada, serta mencari orang-orang muda di pedesaan yang mau berlatih dan belajar hal baru.”

Menurut Anda, peran apa yang dimainkan perempuan dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di masyarakat pedesaan?

“Ketika membicarakan bisnis di pedesaan, maka sudah seharusnya bisnis tersebut bergerak secara inklusif dengan melibatkan perempuan. Sebab nyatanya di desa, kebanyakan yang bertahan hidup adalah kaum perempuan sebagaimana karyawan Agradaya 75 persennya adalah perempuan. Namun budaya patriarki yang masih kuat mengakar membuat perempuan sering kali dinilai tidak layak mendapat kesempatan ekonomi yang lebih baik. Laki-laki menjadi sosok yang dianggap mesti pergi merantau ke kota besar untuk kesempatan meningkatkan taraf hidup. Dengan kondisi tersebut maka menjadi penting bagi kita untuk mengajak para perempuan di desa-desa agar berperan dan berdaya secara ekonomi. Sebab jika kita mengintervensi satu perempuan, maka akan terinterbensi satu keluarga.

Pola ini memudahkan untuk mewujudkan misi pemberdayaan perempuan desa. Perempuan bukan hanya penting, ia adalah tulang punggung bagi banyak hal, termasuk menopang berbagai aktivitas kebudayaan, seperti hajatan atau kegiatan relawan. Kami di Agradaya bahkan bisa sampai meliburkan kegiatan apabila tim kami sedang memenuhi kewajiban sosialnya. Dalam itungan ekonomi, keputusan ini barangkali dianggap tidak produktif namun saya percaya produktivitas tidak melulu harus bersifat finansial karena ada nilai-nilai seperti ‘trust’ yang juga penting dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.”

Apa aspirasi Anda terhadap masa depan Agradaya serta bagaimana rencana Anda untuk terus memberikan dukungan dan dampak positif bagi masyarakat pedesaan?

“Bicara soal bisnis, memang sangat penting untuk membesarkan perusahaan dan keuntungannya. Namun ketimbang terburu-buru menjadikan Agradaya sebagai perusahaan raksasa, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan yang selalu menjadi landasan visi kami dalam mengembangkan Agradaya: inklusivitas. Saya melihat kadang kalau sebuah usaha mulai membesar, maka bisnis tersebut cenderung tidak inklusif. Keterlibatan perempuan bahkan boleh dibilang minim karena kerja sama dengan perempuan kerap dianggap tidak efisien, sedangkan di sisi lain bisnis yang besar tentu menghendaki keuntungan yang tidak kecil. Maka dalam mengembangkan Agradaya, saya lebih mengutamakan dampak penyebaran yang luas. Kami memiliki pabrik pengolahan rempah di Sleman yang dikerjakan oleh para perempuan di Sleman. Namun ketika ada kebutuhan rempah-rempah di luar Sleman, maka tidak harus dikirim dari Agradaya yang berlokasi Sleman. Saya berharap setiap daerah di Indonesia punya pabrik pengolahan kecil-kecil yang memiliki standar berkualitas seperti industri besar. Saya berharap kami Agradaya dan para pelaku usaha lainnya dapat menggerakkan perekonomian dengan tetap mengedepankan prinsip-prinisp inklusivitas agar para perempuan di desa-desa dan daerah pelosok bisa terus terlibat dan ikut berdaya dalam roda perekonomian.”