LIFE

9 September 2026

Deva Mahenra Merawat Rasa Ingin Tahu dan Memilih untuk Terus Menjadi Murid


PHOTOGRAPHY BY Ifan Hartanto

Deva Mahenra Merawat Rasa Ingin Tahu dan Memilih untuk Terus Menjadi Murid

Styling Ismelya Muntu; grooming Ryan Ogilvy; hair Farhan Nabil; styling Assistant Namira Ariestiara

Ada sesuatu yang tenang dalam cara Deva Mahenra membangun kariernya. Ia tidak pernah tampak tergesa-gesa mengejar sorotan, melainkan sibuk merawat proses yang berlangsung jauh dari perhatian publik. Saat kami bertemu untuk pemotretan ELLE Man, Deva baru saja meminta izin sehari dari proses persiapan proyek terbarunya. Hari-harinya diisi script reading, lokakarya, hingga latihan fisik untuk membangun karakter baru. Setelah lebih dari satu dekade berkarier, ia masih membicarakan pekerjaannya dengan antusiasme seorang murid.

Percakapan itu mengingatkan saya pada pertemuan pertama kami sebelas tahun lalu, ketika Tetangga Masa Gitu tengah melambungkan namanya. Deva masih berada di awal perjalanan sebagai aktor layar lebar, membawa semangat khas usia dua puluhan yang ingin menjajal segala kemungkinan. Kini ia mampu bergerak luwes dari komedi, drama, hingga thriller psikologis, memerankan tokoh-tokoh yang kerap berdiri di wilayah moral yang abu-abu. Namun satu hal tidak berubah: ia selalu memandang profesinya sebagai ruang belajar, bukan panggung pembuktian.

Karier Deva tumbuh perlahan. Ia pernah menjadi finalis Indonesian Idol, presenter televisi, dan DJ sebelum akhirnya menemukan rumahnya di seni peran. Jalannya lebih menyerupai sedimentasi daripada lompatan. Di usia dua puluhan, dorongan untuk terus mencari tantangan membawanya meninggalkan rutinitas demi ruang-ruang baru. Perjalanan itu bermula lewat Slank Nggak Ada Matinya, lalu berlanjut ke Guru Bangsa Tjokroaminoto, Sabtu Bersama Bapak, Ghost Writer, 99 Nama Cinta, Teluh Darah, hingga Ipar Adalah Maut dan Luka, Makan, Cinta.


Kecintaannya pada seni peran sebenarnya telah tumbuh sejak mengikuti teater semasa SMA, tetapi menemukan bentuk ketika memerankan Abdee Negara dalam Slank Nggak Ada Matinya. Di sanalah ia menyadari bahwa akting bukan sekadar menghafal dialog, melainkan latihan empati. “Hari ini saya masih percaya bahwa bagaimana sebuah karakter menjadi hidup dan layak ditonton adalah tanggung jawab besar seorang aktor.” Barangkali itu pula sebabnya ia tidak pernah memilih proyek semata karena ukuran perannya. Ia selalu memulai dari cerita.

Ada aktor yang mencari karakter utama. Ada pula yang mengejar sutradara besar atau angka penonton. Deva justru mencari sesuatu yang bahkan sulit ia definisikan. “Saya selalu membaca premis dan skenario dulu. Lalu entah kenapa, kadang ada rasa ‘klik’ yang muncul. Saya percaya sebuah karakter akan menemukan aktornya. Sebesar apa pun saya menginginkan satu peran, kalau karakter itu tidak memilih saya, saya rasa prosesnya tidak akan berjalan.” Bagi seorang aktor, intuisi sering kali sama pentingnya dengan teknik. Mungkin itu sebabnya karakter-karakter yang ia mainkan hampir selalu terasa manusiawi. Bahkan Aris—tokoh yang begitu dibenci publik dalam Ipar Adalah Maut—ia dekati bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai manusia dengan serangkaian keputusan, kelemahan, dan kontradiksinya sendiri.


Ketika ditanya apa ketakutan terbesarnya sebagai seorang aktor, jawabannya datang tanpa jeda. “Saya takut tiba-tiba merasa puas.” Bagi Deva, rasa cukup memiliki dua wajah. Dalam kehidupan pribadi, ia merasa cukup dengan keluarga dan kehidupan yang dimilikinya. Namun di ruang kerja, rasa cukup justru menjadi sesuatu yang harus diwaspadai.

“Kalau sebagai manusia, saya merasa cukup dan bahagia dengan hidup saya. Tapi kalau sebagai aktor, rasa cukup itu berbahaya. Saya harus tetap merasa kurang. Harus tetap merasa belum tahu apa-apa. Karena dari situlah saya mau terus belajar.” Di tengah budaya yang mengagungkan kepastian, ia memilih menjaga ruang untuk terus meragukan dirinya sendiri—bukan keraguan yang melumpuhkan, melainkan kesadaran bahwa setiap karya selalu menyisakan ruang untuk dipelajari kembali.


Di fase kariernya hari ini, ambisi tidak lagi hadir sebagai keinginan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pekerjaan. Ambisi justru berubah menjadi kemampuan memilih mana yang layak menghabiskan waktu, tenaga, dan perhatian. Aris dalam Ipar Adalah Maut adalah salah satunya.

“Saya sempat berpikir ingin keluar dari zona nyaman, tidak terus memerankan sosok suami. Tapi ketika membaca Aris, saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Konfliknya dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi cara dia bergerak sebagai manusia membuat saya penasaran.” Baginya, ledakan respons penonton berada di luar kendalinya. Yang dapat ia jaga hanyalah kesungguhan dalam bekerja. Dan setiap karakter, katanya, selalu meninggalkan perspektif baru yang membuatnya sedikit lebih bijaksana.

Jika seni peran mengajarkannya memahami manusia lain, ada satu pekerjaan yang jauh lebih panjang daripada memerankan karakter mana pun: belajar menjadi dirinya sendiri. Deva selalu sadar bahwa aktor adalah profesi, bukan identitas yang harus dibawa pulang setiap hari. Setelah kamera berhenti merekam, suami aktris danpenyanyi Mikha Tambayong ini ingin kembali menjadi manusia biasa: seorang anak, seorang sahabat, seorang suami.

“Saya dari awal sadar bahwa saya ini aktor yang bekerja, yang juga punya kehidupan personal di luar pekerjaan. Saya berusaha supaya kehidupan yang fiksi tidak memengaruhi kenyataan hidup saya. Saya terbiasa masuk dan keluar dari karakter, lalu kembali menjadi diri sendiri.” Di tengah dunia yang mendorong orang terus memainkan versi terbaik dirinya, Deva percaya setiap orang membutuhkan ruang yang tidak perlu dipertontonkan kepada siapa pun.


Cara berpikir yang sama juga muncul ketika ia berbicara tentang relasi. “Dulu ada teman yang bilang kepada saya, hubungan antarmanusia itu tempat kita memberi. Kalimat itu mengubah cara saya melihat hidup.” Sejak itu, ia memandang hubungan bukan sebagai tempat untuk menuntut, melainkan memberi—waktu, perhatian, tenaga, dan kehadiran. “Kehadiran kita itu penting. Hadir secara fisik, secara pikiran, secara mental. Waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diulang. Karena itu, gunakan waktu hanya untuk hal-hal yang benar-benar berarti.”

Di usia yang semakin matang, Deva mengaku mulai mengukur keberhasilan dengan cara yang berbeda. “Dulu saya merasa cukup tahu. Semakin bertambah usia, saya justru semakin sadar bahwa saya belum tahu banyak. Banyak pengalaman belum tentu membuat seseorang menjadi lebih bijaksana.” Kesadaran itu membuatnya semakin menghargai kualitas-kualitas yang tidak pernah muncul dalam daftar pencapaian: ketulusan, integritas, kejujuran, dan kemampuan memperlakukan orang lain dengan hormat.


Sebelum percakapan berakhir, saya bertanya apa yang kini terasa jauh lebih penting dibanding lima tahun lalu. “Ketenangan.” Baginya, ketenangan membuat seseorang tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, bekerja dengan lebih jernih, dan menjaga kewarasan di tengah dunia yang semakin bising. “Di zaman ketika membuka media sosial saja dapat menguras energi, ketenangan, bagi saya, bukan lagi kemewahan kecil, melainkan kebutuhan yang harus dirawat setiap hari.

”Mungkin itulah mengapa, setelah lebih dari satu dekade berkarier, Deva Mahenra tidak lagi tampak seperti seseorang yang sedang berlari mengejar garis akhir. Ia justru memilih memperlambat langkah agar dapat menikmati perjalanan dengan lebih utuh. “Saya rasa semakin bertambah usia, saya semakin tidak tertarik merasa paling tahu atau paling hebat. Yang ingin saya jaga justru rasa ingin tahu itu sendiri. Selama saya masih merasa ada yang bisa dipelajari, berarti saya masih punya alasan untuk terus bertumbuh.”