8 September 2026
Eva Celia Menemukan Kembali Kebahagiaan Hidup Bermain Peran
styling Alia Husin; fashion STELLARISSA; makeup; hair Eka; styling assistang Kayla Shabia
Hari ini Minggu, dan Eva Celia sungkan berperilaku ambisius. Penghujung pekan idealnya adalah menghabiskan waktu di rumah. Bermain dengan anjing-anjing dan kucing-kucing peliharaanya; melanjutkan membaca buku yang sempat tertunda; atau sekadar membiarkan hari berlalu tanpa merasa perlu melakukan apa pun. Ia menempatkan hari Minggu sebagai ruang kontemplatif untuk kembali menikmati jeda. Jika akhirnya ia beranjak keluar, langkahnya hampir selalu mengarah kepada segelintir orang yang mengisi lingkaran pertama hidupnya. “Saat ini saya sedang kembali mempelajari the art of being bored,” katanya, “Rasanya untuk bisa duduk diam, tidak melakukan apa-apa, merupakan sebuah kemewahan dalam kehidupan manusia zaman sekarang.”
Sulit membantah pengujaran Eva. Kita hidup di tengah dunia yang memuja kecepatan, di mana nilai seseorang kerap diukur dari produktivitas harian. Dalam ritme itu, faktanya, kemampuan berhenti sejenak sifatnya kian langka. Barangkali hanya muncul ketika tuntutan hidup memberi sedikit celah bernapas. Eva memahami kondisi tersebut sama baiknya dengan kebanyakan orang. Selama hampir dua dekade sejak debutnya di layar televisi Sherina pada usia 15 tahun, kiprahnya melaju di atas dorongan untuk terus bertumbuh dari satu fase ke fase lain. Tiap fase membawa ia pada tujuan berikutnya. “Saya selalu menyusun keinginan untuk dicapai. Tapi, pada saat bersamaan, saya sering lupa kalau sebenarnya ada hidup di depan mata yang juga harus dinikmati,” ujarnya. Sebuah kesadaran seketika meresapi benak saya selagi mendengarkan kontemplasinya: pertemuan kami malah berlangsung di hari Minggu. Ucapannya di awal perbincangan sontak menyiratkan makna berbeda, “Terima kasih sudah bersedia bertemu di hari Minggu.”

fashion Toton.
Tidak mudah bagi Eva mempertahankan hari Minggu untuk dirinya seorang. Beberapa tahun belakangan, ia kembali terlihat aktif wira-wiri di ranah perfilman. Mula- mula lewat penampilan singkat dalam laga The Shadow Strays. Lalu ia menggurat penampilan paling emosional di Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Perannya sebagai anak sulung yang memikul beban rumah tangga orangtua di tengah perjuangan menafkahi kebutuhan anaknya sendiri selaku ibu tunggal, mengantarkan ia masuk jajaran nomine Pemeran Pembantu Wanita Terpuji di Festival Film Bandung 2026. Ia juga meramaikan narasi horor Abadi Nan Jaya garapan Kimo Stamboel. Ketika film tersebut diputar Netflix pada Desember silam, banyak penonton seolah-olah diingatkan akan sosok Eva Celia sang aktor.
Eva Celia masih berusia delapan tahun tatkala pertama kali berhadapan dengan kamera sinema. Pengalaman itu datang tanpa rencana besar. Seingatnya, “Ajakan seorang kenalan keluarga. Bukan atas dasar keinginan pribadi. Saya hanya penasaran mencoba pengalaman.” Rasa penasaran yang sama menuntun ia terus menapaki seni peran sepanjang masa remaja. “Kala itu, saya tidak pernah benar-benar menganggap akting sebagai pekerjaan. Syuting tak lebih serupa taman bermain, dan saya sedang main. I am playing make-believe, dan permainan itu sangat menyenangkan,” kenang Eva. Intonasinya terasa reflektif.
Eva berkontemplasi, “Saya memasuki panggung hiburan di usia yang sangat muda. Selama menapakinya, sempat ada momen—at my twenties—di mana saya bertanya kepada diri sendiri, apakah setiap hal yang saya lakukan memang karena saya mencintainya, atau karena dunia ini sudah menjadi lanskap hidup yang akrab sejak saya lahir?”

fashion Toton.
Eva Celia tumbuh di tengah salah satu keluarga paling berpengaruh di dunia seni Tanah Air. Ibunya adalah Sophia Latjuba, salah satu figur ikonis di generasinya. Sang ayah, musisi Indra Lesmana. Dari garis keluarga ayahnya, Eva bertalian dengan Mira Lesmana (produser) dan Mathias Muchus (salah satu aktor kawakan yang disegani). Seni lebih dari sekadar profesi yang mengelilinginya. Seni adalah bahasa yang menjalin indranya sejak kecil. “It is such a huge privilege yang tidak akan pernah saya sangkal. Latar belakang keluarga saya memberi kesempatan serta ruang untuk saya dapat leluasa bereksperimen,” ujarnya. Meski begitu, privilese juga membawa konsekuensi sendiri. Semakin besar pintu terbuka di hadapannya, semakin besar pula dorongan untuk memastikan bahwa setiap pilihan yang ia ambil benar-benar lahir dari keinginan pribadi, dan bukan sekadar mengikuti lanskap kehidupan yang telah terbentang jauh sebelum ia sempat memilihnya.
Pencarian itu juga perlahan mengubah cara Eva memandang hidupnya hari ini. “Salah satu hal yang membuat saya merasa bahagia saat ini, saya pikir, being alone. Saya sedang menikmati fokus pada diri sendiri, dan memprioritaskan beberapa aspek hidup yang dulu sering saya abaikan. Dalam beberapa tahun terakhir, saya belajar membangun kepercayaan terhadap diri sendiri dengan mulai melakukan hal-hal yang saya cintai. Saat ini, perihal itu adalah bermain film,” katanya. Tawanya kemudian pecah ringan sebelum berujar, “Kadang saat dewasa, kita kerap lupa betapa menyenangkannya taman bermain semasa kanak-kanak.” Ucapannya seolah-olah mengisyaratkan bagaimana langkahnya menekuni dunia film hari ini layaknya menemukan keterhubungan pada inner child di dalam dirinya. “Tapi tentu saja sekarang dengan mindset yang jauh lebih matang,” katanya tersenyum.

fashion Liliana Lim.
Eva tidak pernah berusaha mengecilkan arti privilese yang dimilikinya. Ia menyadari bahwa lingkungan tempat ia dibesarkan memberikan ia sebuah awal yang tidak dimiliki semua orang. Alih-alih merasa entitled, kesadaran tersebut menumbuhkan rasa tanggung jawab yang mendalam. “Ada begitu banyak orang berbakat dan sebenarnya pantas mendapatkan kesempatan yang sama di luar sana. Saya sadar bahwasanya mungkin saya tidak melalui proses sebagaimana halnya mereka untuk sampai di titik ini. Sebab itu, saya merasakan tanggung jawab yang jauh lebih besar untuk tidak menyia-nyiakannya dan bekerja dengan sungguh-sungguh,” katanya. Tak ada nada membela diri. Suaranya lebih menyuratkan seseorang yang memahami bahwasanya kesempatan selalu hadir bersama tanggung jawab.
Di balik pembawaan yang tenang, ia menetapkan standar pribadi yang tak kenal kompromi. Kritik paling tajam, akunya, hampir selalu datang dari dalam dirinya sendiri. “Before anyone judges me, I am already judging myself.” Ia tergelak sejenak menyadari pernyataannya, “Not a good quality to have, but... Barangkali itu juga yang menyebabkan saya sangat serius terhadap setiap hal yang saya kerjakan.”

fashion Liliana Lim.
Berbeda dari sebagian aktor yang enggan menonton kembali film mereka, Eva justru selalu melakukannya. Bukan untuk mencari pembenaran, “Saya menonton performa sendiri untuk membedah kekurangan, dan menganalisa ulang kekuatan. Lalu mendiskusikannya bersama acting coach saya, Ben Bening.” Proses evaluasi itu pun tidak pernah ia lakukan sebagai bentuk penghukuman terhadap diri sendiri. “Saya berusaha melihat performa saya secara objektif. Saya harus bisa detach dari hasil kerja saya sendiri. Menurut saya itu penting, supaya saya bisa datang ke proyek berikutnya sebagai aktor yang lebih baik,” katanya. Ada jarak yang sengaja ia bangun antara Eva sebagai manusia, dan selaku aktor.
Tepat ketika seni peran kembali mengambil ruang dalam hidup Eva, ironisnya, publik telah akrab melihat sosoknya melalui kacamata berbeda. Penyanyi. Penulis lagu. Musisi. Musik, selama bertahun-tahun, berkonotasi erat dengan personanya. Dua album studio dan sejumlah karya yang memperoleh apresiasi kritikus menegaskan posisinya sebagai salah satu musisi dengan sensibilitas artistik yang khas. “Sampai kapan pun musik akan selalu menjadi bagian besar hidup saya. It is who I am,” ujar musisi pemenang piala Anugerah Musik Indonesia itu. Hanya saja ada animo yang berbeda setiap kali kini ia melangkah ke lokasi syuting. “Ketika bermain film, saya merasa menjadi manusia yang lebih merdeka,” ungkap Eva, “Saya tidak merasa harus membuktikan diri atau mencari validasi. I just want to act.”

Musik dan film, bagi Eva, sama-sama lahir dari proses kreatif. Meski begitu, keduanya menuntut sifat kerentanan yang berbeda. Di musik, setiap lagu yang tercipta selalu berangkat dari ruang paling personal. Kendati berkolaborasi dengan produser atau terkadang penulis lagu lain (kebanyakan lagu merupakan karya tulisan Eva sendiri), ia tetap menjadi orang yang membuka diri paling lebar. “Dalam bermusik, setiap nada dan setiap kata adalah suara saya. Jadi saat memperdengarkan karya itu kepada dunia, lalu mengetahui ada orang yang tidak menyukainya, it kinda feels like a personal attack,” ungkapnya. Eva tidak sedang berkata ia merasa sebagai korban. Setiap orang bebas berpendapat. Ia hanya jujur terhadap dirinya sendiri. Sejatinya perasaan setiap orang merupakan hak masing-masing. Valid.
Seni peran menyuguhkan logika yang berbeda. Di depan kamera, Eva tidak menceritakan dirinya sendiri. Ia menarasikan kehidupan orang lain yang bukan miliknya. Di antara jarak tersebut, ia merasakan kebebasan. Ia menerjemahkannya sebagai latihan untuk memahami kerangka berpikir manusia. “Setiap kali bermain peran, saya merasa bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik,” ujarnya, “sebab esensinya, seni akting adalah tentang belajar menjadi manusia.” Pengertian tersebut menjadi semacam benang merah yang menghubungkan seluruh kiprah Eva pada hari ini. Ia tidak sedang mengejar ketenaran baru. Tidak pula berusaha membuktikan bahwa dirinya layak berada di industri film. Yang ia temukan justru jauh lebih mendasar: ruang untuk hidup tanpa harus terus-menerus menjadi dirinya sendiri. Ironisnya di saat ia berhenti berusaha menjadi Eva Celia, ia justru semakin menemukan siapa dirinya sebenarnya.

Pemahaman itu mewujud bentuk barunya lewat karya Laut Bercerita (yang dikabarkan akan rilis pada tahun ini). film adaptasi novel berjudul sama karya Leila S. Chudori tersebut mempertemukan Eva dengan karakter Anjani yang hidup di tengah gejolak politik Indonesia menjelang Reformasi 1998. Karakter tersebut menuntutnya memahami manusia dari lanskap sejarah yang tidak pernah benar-benar ia alami. Demi membangunnya, Eva tidak berhenti pada naskah. Ia membaca berbagai literatur dan berdiskusi dengan para aktivis untuk menyelami cara berpikir generasi yang hidup pada masa itu. “Satu hal yang selalu saya nantikan setiap memulai proyek baru yaitu kesempatan bertemu dan bekerja dengan orang-orang baru,” kata perempuan berwatak introver yang mudah diliputi kecemasan tiap kali berhadapan dengan orang asing.
Eva tergelak saat saya menyinggung tentang bagaimana cara ia bertahan menjaga rasa gugup di antara orang baru. “Barangkali orang mengira saya unapproachable karena pendiam. Padahal saya hanya sungkan memulai percakapan. I have this fear of being perceived. Tapi saya belajar begitu banyak perspektif yang membukakan cara melihat dunia dari berbincang dengan orang baru,” katanya seraya tertawa, “Kontradiktif, but I love it!”