LIFE

1 September 2026

Sheila Dara Menjadi Diri Sendiri Seutuhnya


PHOTOGRAPHY BY Thomas Sito

Sheila Dara Menjadi Diri Sendiri Seutuhnya

styling Ismelya Muntu; fashion Tod's; makeup Ochi Pramita; Hair Kristaliani, styling assistant Varisha Wira; location Salty Fish, Jakarta

Ada sesuatu yang menyenangkan dari menghabiskan waktu bersama Sheila Dara: ia tidak tampak seperti seseorang yang sedang berusaha meninggalkan kesan. Saat sesi wawancara dan pemotretan berlangsung, geraknya luwes, responsnya tidak berlebihan. Ia tidak banyak bicara, tetapi ketika kalimat-kalimat keluar dari mulutnya, ada kehangatan yang segera membuat percakapan terasa akrab. Sesekali ia menyelipkan humor, bahkan ketika membicarakan sesuatu yang serius—seolah ia tahu bahwa hidup sudah cukup rumit tanpa perlu selalu diperlakukan dengan wajah tegang.

Mungkin itu yang membuat Sheila terasa dekat. Di usia ketika banyak figur publik semakin sibuk mengonstruksi citra, ia justru tampak nyaman membiarkan dirinya hadir dengan segala sisi yang tidak terlalu dipoles. Ia bisa membicarakan karier, karakter, dan dua Piala Citra yang baru diraihnya, lalu dengan santai mengakui kebiasaan paginya yang tidak terlalu glamor: mematikan alarm, mengambil ponsel, dan terseret doom scrolling selama satu jam. “Saya bisa berjam-jam nonton video-video lucu dan absurd,” katanya sambil tertawa. “Saya suka banget sharing video-video reels ke mutual saya, kayaknya itu love language saya deh.”

Di antara popularitas dan kehidupan personal, Sheila tampaknya telah menemukan batas yang nyaman. Ia tidak menolak perhatian publik, tetapi tahu bahwa tidak semua bagian hidup harus dibagikan. “Saya rasa kesadaran soal privasi ini menjadi sesuatu yang sudah otomatis dalam diri saya,” ujarnya. Ada orang-orang terdekat yang ia tahu tidak nyaman kehidupannya ditampilkan, dan ia merasa cukup dewasa untuk memilah mana yang perlu dibagikan dan mana yang sebaiknya tetap menjadi milik sendiri. Di tengah zaman ketika keterbukaan sering dianggap sebagai bentuk kedekatan, keputusan untuk menyimpan sebagian hidup justru terasa seperti sebuah bentuk agensi. Sebab tidak semua yang berharga harus menjadi tontonan.


Perjalanan Sheila di dunia hiburan sendiri tidak pernah benar-benar bergerak dalam garis lurus. Ia menyanyi sejak kecil, sempat muncul dalam sejumlah program dan produksi televisi, tetapi kemudian memilih menepi untuk pendidikan. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 8 Jakarta, ia melanjutkan studi Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

“Selama kuliah, saya benar-benar menikmati kehidupan sebagai mahasiswa. Pekerjaan di dunia hiburan praktis dikesampingkan, bahkan ketika sedang libur semester. Saya memilih memenuhi waktu dengan kuliah, mengambil beban studi yang cukup padat agar dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat,” kenangnya.

Pilihan itu, jika dilihat dari perjalanan Sheila hari ini, terasa cukup menggambarkan karakternya. Ia tidak pernah tampak terlalu tergesa untuk sampai di suatu tempat. Ketika ada kesempatan untuk berhenti dan belajar, ia mengambilnya. Ketika kemudian kembali ke dunia seni peran, ia pun tidak datang dengan ambisi untuk segera menjadi bintang utama. Ia datang untuk bekerja. Lalu, perlahan, ia menemukan sesuatu yang lebih besar: rasa ingin tahu.

Awalnya akting ia anggap sebagai pekerjaan. Ia menghafal naskah, datang tepat waktu, dan berusaha menjalankan perannya sebaik mungkin. Tetapi semakin sering berada di lokasi syuting, semakin banyak bertemu orang yang membuatnya tertarik pada dunia film. “Saya seperti dipertemukan dengan orang-orang yang bisa meng-ignite interest saya terhadap dunia film,” katanya. “Dan somehow malah jadi lebih enjoy akting dibanding menyanyi.”

Pengalaman di FTV menjadi semacam sekolah akting yang tidak pernah ia rencanakan. Tanpa pernah mengikuti kelas akting secara formal, ia belajar tentang blocking, medium close-up, pencahayaan, pendalaman karakter, hingga ritme kerja langsung dari lapangan dan lawan main. “Saya cukup beruntung selalu dipertemukan dengan orang-orang yang bikin saya bisa menyerap ilmu dan pengetahuan,” ujarnya. “Akhirnya saya juga jadi bertumbuh. Saya bertemu dengan orang-orang yang tepat.”

Ada sesuatu yang menarik dari cara Sheila memandang posisi supporting actress. Ia tidak pernah menganggapnya sebagai posisi yang harus segera ditinggalkan demi menjadi pemeran utama. Justru dari sana ia mendapatkan ruang untuk mengamati. Di Noktah Merah Perkawinan, ia belajar dari Marsha Timothy dan Oka Antara. Di Sabtu Bersama Bapak, dari Acha Septriasa. Di Heartbreak Motel, dari Laura Basuki. Sementara lewat Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, ia menyerap sesuatu dari Nirina Zubir. “Sebagai supporting saya justru jadi punya kesempatan untuk menyerap ilmu,” katanya. Bagi Sheila, setiap karakter juga merupakan semacam perjumpaan. Ia mengibaratkan proses pendalaman karakter seperti berkenalan dengan manusia baru: seseorang dengan pengalaman hidup, cara berpikir, luka, dan kebiasaan yang berbeda darinya. “Setiap pendalaman karakter tuh rasanya kayak kenalan sama orang baru,” ujarnya. “Mereka punya pengalaman hidup yang berbeda dengan saya.”

Barangkali di situlah salah satu kunci pertumbuhannya sebagai aktris: ia tidak terburu-buru mengubah dirinya menjadi orang lain. Ia cukup bersedia mendengarkan orang lain—bahkan ketika “orang lain” itu adalah tokoh fiktif. Namun perjalanan tersebut tidak selalu berlangsung tanpa keraguan. Ada masa ketika Sheila merasa berjalan di tempat, seolah tidak lagi bertumbuh. Dari sana muncul kecemasan: apakah ia cukup mahir, cukup baik, cukup pantas berada di industri ini? Perasaan itu membuatnya merasa “kecil”. Tetapi waktu dan pengalaman perlahan mengubah cara pandangnya. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan kecepatannya sendiri. “Setiap orang punya perjalanannya masing-masing yang satu sama lain itu tidak sama. Kecepatannya juga beda-beda,” katanya.


Dua Piala Citra berturut-turut—untuk Jatuh Cinta Seperti di Film-Film dan Sore: Istri dari Masa Depan—tentu menjadi penanda penting dalam karier Sheila. Tetapi ia tidak menjadikannya pusat cerita. Penghargaan, baginya, adalah bonus. Validasi menyenangkan, tetapi bukan alasan utama ia bekerja. Setiap memasuki proyek baru, ia justru memilih untuk kembali tidak tahu apa-apa dan bekerja keras untuk memahami karakter yang berada di hadapannya.

Sheila tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mengejar karier yang semakin besar. Ia lebih tertarik pada karier yang semakin dalam. Film panjang berikutnya, yang judul dan genrenya masih ia rahasiakan, menjadi contoh lain. Ia hanya bersedia mengatakan bahwa proyek tersebut menuntutnya secara fisik dan membuatnya melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. “Pada dasarnya saya juga tipe orang yang suka mencoba kebaruan,” katanya.

Pandangan itu kemudian menemukan bentuk yang lebih personal ketika Sheila bicara tentang kehidupan yang ingin ia bangun. “Hmmm, apa yaaa… Rasanya saya ingin menjalani kehidupan yang mundane. Yang biasa-biasa saja, yang cukup saja,” katanya. Ia membayangkan hari yang sederhana: bangun, minum kopi, olahraga, bekerja, pulang, bermain dengan kucing, menonton film, lalu tidur. “Meski tidak ada kemeriahan, tidak ada hal-hal gegap gempita, rasanya tetap utuh.” Kalimat itu terasa menarik justru karena datang dari seseorang yang hidupnya berada di industri yang dibangun di atas perhatian. Tetapi bagi Sheila, keberhasilan tidak harus menghasilkan kehidupan yang semakin riuh. “Kehidupan yang tenang dan berimbang. Tidak ada yang berlebihan, semua pada kadar yang wajar,” katanya ketika mendefinisikan sukses. “Bisa bekerja di bidang yang disukai, memiliki waktu untuk sahabat, dan memiliki waktu untuk beristirahat—semua itu kemewahan dan kesuksesan yang sesungguhnya buat saya.”

Setelah kehilangan suaminya, musisi Vidi Aldiano, pada Maret tahun ini, gagasan Sheila tentang kehidupan yang tenang tentu memiliki lapisan emosional yang berbeda. Namun kita tidak perlu membaca seluruh pandangannya sebagai akibat dari kehilangan tersebut. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana ia memilih menjalani fase hidup berikutnya: tidak menjadikan duka sebagai identitas, dan tetap memberi dirinya izin untuk menikmati hal-hal kecil yang membuat kehidupan terasa utuh.

Ada kedewasaan dalam keinginan akan sesuatu yang mundane. Bukan karena rasa ingin tahu menghilang, melainkan karena seseorang mulai memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk pengalaman besar. “Saya menikmati waktu dan momen bersama keluarga dan teman-teman yang hidupnya lebih eksploratif dan penuh keriaan. Saya bahkan senang mengikuti pilihan orang lain ketika makan bersama agar dapat mencoba sesuatu yang baru. Hidup yang tenang, bagi saya, tidak berarti hidup yang tertutup.”


Begitu pula dengan fashion. Bertambah usia ternyata tidak membuat Sheila berhenti berbelanja. “Semakin bertambah usia, saya semakin… tetap suka belanja!” katanya sambil tertawa. Bedanya, kini ia semakin tertarik pada brand lokal dan semakin tahu mana tren yang sekadar menarik untuk dilihat dan mana yang benar-benar cocok dikenakan. “Saya built sendiri wardrobe versi saya yang seperti apa.” Kalimat itu sebenarnya berbicara lebih jauh daripada pakaian. Personal style adalah bentuk pengetahuan tentang diri: mengetahui apa yang cocok, apa yang tidak, apa yang ingin dipertahankan, dan apa yang cukup dikagumi dari jauh. Ketika seseorang semakin mengenal dirinya, tren berhenti menjadi perintah dan berubah menjadi pilihan.

 

Di titik ini, gagasan tentang craftsmanship terasa menemukan resonansinya. Tod’s berbicara tentang kualitas material, keahlian tangan, desain yang melampaui musim, dan kemewahan yang tidak perlu berteriak. Ada kesamaan prinsip dengan fase hidup Sheila sekarang: tidak semua hal harus diperbesar agar berarti.

Bahwa sesuatu yang dibuat dengan teliti membutuhkan waktu. Begitu pula manusia. Ada kualitas tertentu yang hanya bisa muncul melalui proses—melalui pengalaman, kesalahan, jeda, dan keberanian untuk memulai lagi.

Sheila tidak pernah membayangkan dirinya tidak akan bekerja di perfilman. Saat kuliah, ia hanya tahu satu hal: ia tidak ingin bekerja kantoran dengan pola sembilan sampai lima. Kini, lucunya, ketika melihat perempuan kantoran mengenakan lanyard di pusat perbelanjaan, ia kadang justru berpikir, “Seru juga kayaknya jadi pegawai kantoran.” Kalimat itu khas Sheila: ringan, tetapi menyimpan pemahaman bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya dapat direncanakan. Mungkin karena itu, ketika ditanya apa yang ingin ia katakan kepada Sheila Dara berusia 20 tahun, jawabannya tidak panjang. “You do you. Percaya dengan diri sendiri. Saya percaya, jika seseorang bergerak berdasarkan keyakinannya dan melakukan hal-hal yang disenangi dengan sepenuh hati, pada akhirnya semua bakal jatuh ke tempat yang tepat."

Setelah bertahun-tahun memerankan perempuan-perempuan dengan kehidupan yang bukan miliknya, memasuki pengalaman yang tidak pernah ia jalani, meminjam suara, tubuh, ketakutan, dan harapan orang lain, mungkin inilah pelajaran paling personal yang dibawa Sheila pulang dari dunia akting: menjadi seseorang bukanlah pekerjaan yang selesai dalam sekali penemuan. Sheila tidak sedang mengejar versi dirinya yang paling sempurna. Ia hanya sedang menjadi semakin akrab dengan dirinya sendiri—dengan rasa ingin tahu, humornya, batas-batas pribadinya, kecintaannya pada pekerjaan, dan keinginannya akan kehidupan yang cukup.

Dan ketika kamera berhenti merekam, di sanalah Sheila Dara yang paling utuh: bukan sebagai karakter, bukan sebagai pemenang, bukan sebagai seseorang yang harus terus membuktikan bahwa ia pantas berada di sana. Hanya seorang perempuan yang kerap nyaman berada di rumah, gemar membuat kopi, senang bermain dengan kucing, tertawa pada sesuatu yang absurd di layar ponselnya, lalu bangun besok pagi dengan rasa ingin tahu yang sama.