5 Oktober 2026
Di Antara Kendali dan Kebebasan, Syifa Hadju dan Yasmin Napper Menemukan Diri Sendiri
PHOTOGRAPHY BY Lena Melnik
styling Alia Husin; fashion Coach; makeup director Archangela Chelsea; makeup artist Angela Sun; hair DEea Felicia
New York tidak pernah memberi banyak waktu untuk berpikir. Kota ini bergerak dengan kecepatannya sendiri—kereta yang datang dan pergi, lampu yang tak pernah benarbenar padam, manusia yang berpapasan tanpa perlu saling mengenal, pakaian yang menjadi pernyataan, kamera yang menangkap hampir segala sesuatu. Di kota seperti ini, menjadi seseorang terasa mudah. Tinggal memilih bagaimana ingin terlihat. Namun perjalanan Syifa Hadju dan Yasmin Napper bersama Coach justru membawa mereka pada pertanyaan yang lebih sunyi: siapa kita ketika tidak lagi terlalu sibuk memikirkan bagaimana kita terlihat?
Syifa datang dengan pikirannya yang sebagian masih tertinggal di Indonesia. Ketika ia berangkat, erupsi Anak Krakatau sedang menjadi perhatian. Tubuhnya berada ribuan kilometer dari rumah, tetapi pikirannya terus kembali kepada ibu, keluarga, dan kucingnya. “Saya seperti sedang berada di luar negeri, tetapi constantly worrying about what happened back in my country,” katanya. New York, dengan demikian, bukan semata destinasi. Ia menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada bagian dari dirinya yang ikut dibawa.
Yasmin mengalami kekacauan dengan cara berbeda. Perjalanannya memakan waktu sekitar 40 jam, dan ia tiba hanya tiga jam sebelum fashion show Coach. Immigration, hotel, mandi, berganti pakaian, bersiap—semuanya berlangsung seperti perlombaan melawan waktu. Namun justru kekacauan itu menjadi pengalaman berarti baginya. “It taught me patience, tapi yang paling penting adalah it taught me to trust myself and just go with whatever happens,” ujarnya.
Keduanya tiba di New York dengan bentuk kegelisahan yang berbeda: Syifa membawa pikirannya pulang kepada keluarga, sementara Yasmin harus menghadapi perjalanan yang sama sekali tidak berjalan sesuai rencana. Namun dari pengalaman yang berbeda itu, keduanya berhadapan dengan satu hal yang sama—kenyataan bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.

fashion Coach (Gaun midi hitam berdetail raw unfinished, sepatu bot kulit, dan tas Soft Tabby 20 berwarna krem)
Bagi Syifa, kesadaran itu berlanjut pada proses yang lebih personal: belajar untuk tidak terlalu hidup dari pandangan orang lain. Ia bercerita bahwa orang-orang di sekitarnya mulai melihatnya sebagai pribadi yang lebih bubbly, lebih mudah membuka percakapan dan berinteraksi. Dulu, ia lebih takut melakukan sesuatu karena terlalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan. Kini ia mulai bertanya, “Why do I have to care about what people think about me?” Sementara bagi Yasmin, melepaskan kendali berarti belajar mempercayai diri sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Yang satu bergerak menuju keberanian; yang lain menuju kepercayaan. Keduanya, dengan cara masing-masing, sedang belajar bahwa menjadi diri sendiri bukan keadaan yang selesai, melainkan sesuatu yang terus berubah seiring bertambahnya usia.
Karena itu, ketika berbicara tentang keberanian menjadi diri sendiri di tengah banyaknya ekspektasi dan tuntutan, ia tidak mengartikannya sebagai kewajiban membuka seluruh dirinya kepada publik. Justru sebaliknya. Ia semakin memahami bahwa autentisitas membutuhkan batas. “Saya tidak akan pernah mau mengubah sedikit pun hal di dalam diri saya… just because a few people don’t like it about me,” katanya. Ia tetap memilih apa yang ingin dibagikan dan apa yang disimpan untuk orang-orang terdekat. Menjadi lebih privat, baginya, bukan berarti menjadi kurang autentik.

fashion Coach (Syifa: Jaket kulit dengan rok mini senada, dan tas Soft Tabby 20 aged leather dengan bag charm buah ceri; Yasmin: Jaket suede dengan rok midi senada, dan tas Coach Crystal Signature Soft Tabby 20 bahan denim)
Di zaman ketika segala sesuatu mudah dipublikasikan, menjadi “real” tidak selalu berarti terbuka tanpa batas. Ada bagian diri yang justru menjadi lebih autentik ketika tidak diberikan kepada publik. Yasmin sampai pada pemahaman serupa melalui jalan berbeda. Bertumbuh membuatnya menerima bahwa ia tidak mungkin membuat semua orang bahagia. Ia belajar memilah mana yang penting, mana yang perlu didengar, dan mana yang sebaiknya dibiarkan berlalu. Yang paling ia hargai dari dirinya sekarang bukan sesuatu yang spektakuler, melainkan resiliensi—kemampuan untuk melewati berbagai hal, tetap bekerja, tetap berdiri, dan tetap menjadi dirinya sendiri.
Menjadi autentik, dengan demikian, bukan berarti menetap dalam satu versi diri. Ada keberanian lain di dalamnya: memberi ruang bagi diri untuk berubah, bereksperimen, dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru. Fashion, bagi Yasmin, dapat mengeluarkan bagian-bagian diri yang selama ini hanya hidup sebagai kemungkinan. Karena itu, menjadi diri sendiri bukan berarti harus terus tertinggal dalam versi yang sudah dikenal. Ada kalanya justru dengan mencoba sesuatu yang asing, kita menemukan sisi diri yang sebelumnya belum sempat muncul. Mungkin karena itu pula Syifa dan Yasmin dapat melihat sesuatu dalam diri satu sama lain yang tidak selalu tampak di depan kamera.

fashion Coach (Kaus varsity berdetail distressed, rok midi beraksen kait, tas quilted Tabby 26 dengan chain strap)
Yasmin melihat Syifa sebagai sosok yang santai, family-oriented, mudah bergaul, mampu memasuki berbagai lingkungan secara natural, sekaligus tahu batas dirinya. Ia mengagumi loyalitas dan kebaikannya. Berada di sekitar Syifa, katanya, mengajarinya “to not let other people’s voices get in the way of staying true to yourself.” Sebaliknya, Syifa melihat Yasmin sebagai seseorang yang lovable, cheerful, dan membawa energi yang membuat suasana terasa lebih ringan. “She doesn’t really realize that she’s a very lovable person,” katanya.
Mereka tidak sedang saling mengidealkan. Mereka mengenali kualitas yang mungkin tidak sepenuhnya disadari oleh pemiliknya sendiri. Dalam industri yang membuat seseorang terus-menerus sadar terhadap bagaimana dirinya dipersepsikan, memiliki seseorang yang dapat melihat kita tanpa terlalu banyak konstruksi adalah sebuah kemewahan.
Bagi Yasmin, pertumbuhan juga berarti memperluas perannya sebagai aktris. Jika dahulu ia melihat aktris sebagai “puppet and sponge”—menerima karakter, dialog, dan arahan—kini ia ingin menjadi bagian dari proses kreatif. “They are a part of the storytelling,” katanya. Ia ingin mencoba karakter yang lebih gelap dan kompleks, morally grey, komedi hingga film aksi. Bukan sekadar untuk membuktikan sesuatu, melainkan karena ia ingin terus menantang dirinya. Syifa membayangkan masa depan dengan kemungkinan berbeda. Ia ingin menjadi seorang ibu tanpa meninggalkan dunia pekerjaan yang telah membentuknya—menjalani kehidupan sebagai perempuan, istri, ibu, sekaligus seseorang yang terus bertumbuh.

fashion Coach (Yasmin: Jaket wol beraksen kulit, rok midi bermotif plaid, dan tas Soft Tabby 20 merah; Syifa: Jaket varsity oversize, rok mini, dan tas Tabby 26 hitam dengan bag charm bentuk cabai)
Mungkin inilah wajah generasi yang sering luput dibaca di balik citra dan sorotan: bukan generasi yang sudah menemukan semua jawaban, melainkan mereka yang semakin berani mengakui bahwa dirinya masih dalam proses. Yasmin berharap lima tahun mendatang ia lebih percaya kepada dirinya sendiri, tidak terlalu takut pada hal-hal di luar kendali, dan mampu menikmati apa yang sedang dijalani. Kepada Yasmin, Syifa berkata, “Keep being you in the best way possible.” Yasmin membalas, “Stay true to yourself, always.”
Di New York, mereka datang untuk sebuah fashion show. Mereka pulang membawa memori dan cerita tentang kota yang tak pernah berhenti bergerak. Tetapi mungkin yang paling penting justru sesuatu yang tidak tertangkap kamera: kesadaran bahwa hidup tidak selalu perlu dikendalikan agar dapat dijalani, dan diri sendiri tidak selalu perlu dijelaskan agar dapat dipercaya. Sebab menjadi real bukan tentang menemukan satu versi diri yang paling benar. Barangkali ini soal keberanian untuk terus berubah tanpa kehilangan diri—dan untuk tetap mengenali suara sendiri, tanpa menyerahkan hak untuk menentukan siapa kita kepada suara orang lain.