10 April 2026

Na Tran dan Chris Chiu Memanifestasikan Pernikahan yang Infinit dalam Memori di Uluwatu, Bali


PHOTOGRAPHY BY Jose Villa

Na Tran dan Chris Chiu Memanifestasikan Pernikahan yang Infinit dalam Memori di Uluwatu, Bali

Na Tran lahir dan tumbuh besar di Vietnam. Kampung halaman Chris Chiu bertempat di Singapura. Seiring Bumi berputar, kehidupan menggariskan alur keduanya berjumpa di kota New York, Amerika Serikat. Asmara pun tak terelakkan manakala cinta bersemi menyalakan lintasan mereka.

Bayangan akan membangun rumah tangga bersama tumbuh secara organis dalam angan Chris seperjalanan tujuh tahun mereka menjalin kasih. Maka pada suatu hari di tahun 2020, ia mengajak Na pergi bersantai ke Central Park. Di sana ia kemudian berlutut pada satu kakinya dan meminta Na untuk bersedia mewujudkan impiannya. “Percayalah hal itu sungguh di luar dugaan saya, walaupun ada sekilas firasat karena ia bertingkah ganjil sebelum kami beranjak pergi. Still, it took me by surprise when the moment actually happened. Jadi saya tertegun, dalam waktu yang cukup lama, dan tidak meresponsnya,” cerita Na mengenang salah satu momen bahagia hidupnya. “Saat itu kita sedang hidup dilanda pandemi Covid-19, pemikiran tentang pernikahan tidak ada dalam benak saya, pun saya tidak pernah benar-benar memikirkan perihal itu sebelumnya; dan sepertinya saya juga tidak benar-benar menyimak setiap kali menonton film drama romansa; sehingga saya bingung bagaimana cara ‘ideal’ untuk meresponsnya, hahaha.” Na berhasil pulih dari keterkejutan pada akhirnya, dan ia memberikan jawaban kepada Chris: it’s a yes (“tentu saja,” ungkap Na.)


Bulan Oktober 2024, Na dan Chris meresmikan asa rumah tangga mereka dengan menggelar sebuah upacara pernikahan sakral nan megah di Bali, Indonesia. “Domisili keluarga, kerabat, serta teman-teman kami mencakup berbagai negara. Sebab itu, lokasi yang strategis jadi pertimbangan utama kami ketika menentukan destinasi pernikahan. Letak Bali yang berjarak cukup dekat dengan Vietnam dan Singapura membuatnya ideal untuk ditempuh oleh keluarga besar, baik dari pihak saya maupun Chris. Akses menuju Bali pun mudah dijangkau bagi kerabat kami di luar benua Asia. Terlepas dari itu, Bali selalu memberikan pengalaman menyenangkan setiap kali kami berkunjung,” kata Na terkait pilihan lokasi.


Seremoni pemberkatan nikah keduanya berlangsung di atas tebing. Berlatarkan hamparan lanskap laut biru pesisir Uluwatu sebagai visual latar nan magis, Six Senses Uluwatu menjadi titik kedua mempelai mengucap janji suci. “Panorama atas tebing punya daya tarik tersendiri buat saya,” ujar Na. Sang pengantin perempuan berjalan menuju altar dalam balutan gaun strapless bersulam kelopak bunga putih rancangan khas Oscar de la Renta. Sebagai pribadi minimalis, gaun berdesain klasik yang elegan mendominasi pilihan Na. "Rancangannya juga harus fungsional agar memudahkan saat bergerak," katanya. Sementara permainan material menciptakan karakter mewah pada setiap rancangan jas mempelai laki-laki.

Aura kecantikan Na terpancar elegan; selaras alunan romantis melodi My Love Mine All Mine karya Mitski yang mengiringi langkah kakinya melalui permainan biola oleh violis di atas panggung terapung di tengah kolam. “Menemukan vendor yang mampu membantu kami mewujudkan ide-ide pernikahan impian merupakan salah satu tantangan besar. Sebab apa yang kami inginkan ternyata membutuhkan teknik konseptual yang cukup kompleks; sehingga kami benar-benar bahagia saat hasilnya begitu sesuai keinginan,” ungkapnya.



Na mengaku tidak pernah menyimpan impian yang spesifik akan sebuah perayaan pernikahan. Ia adalah yang pertama—anak sulung dari dua bersaudara—menikah di keluarganya; begitu pula di antara teman-teman perempuannya. Sepanjang usia, bisa dihitung jari berapa kali ia menghadiri acara pernikahan. “Saya minim akan referensi,” katanya. Meski begitu, Na dan Chris bersepakat dalam satu pemahaman yaitu untuk menggelar pernikahan yang bersifat infinit dalam memori. Manifestasi akan visi kreatif kedua mempelai kemudian dipercayakan kepada tim perencana FORYOU dan desainer konseptual Tea Rose.



Latar belakang profesi keduanya yang bekerja di industri real estate dan perhotelan sedikit banyak memengaruhi konsep selebrasi pernikahan mereka. Tatanan dekor bervisual sophisticated nan estetis sudah pasti; lalu di atas segalanya yang terpenting ialah suasana nyaman dan membahagiakan hati. “Kami ingin setiap orang yang datang—yang banyak di antaranya telah menempuh perjalanan jarak jauh—merasa benar-benar dihargai; and ensure they had a great time. Setiap detail, mulai dari dekorasi, musik, makanan, hingga elemen pendukung dipertimbangkan untuk menciptakan sebuah perayaan immersive yang akrab, menghibur, dan tak terlupakan,” ujar Na.



Na mengambil inspirasi dari estetika gaya hidup wilayah pesisir Mediterania, meliputi Lake Como, Italian Riviera dan French Riviera; hingga rupa menawan garis desain mode koleksi Casa rumah mode Jacquemus. Area upacara pernikahan digubah selayaknya padang bunga rumput putih yang rimbun; dengan kursi tamu warna senada diatur sejajar secara simetris; dan aisle bermaterialkan kaca reflektor memantulkan kilau langit biru turut dihiasi rangkaian bungabunga putih. Dengan atmosfer tropis Pulau Dewata, setiap tamu yang menyaksikan prosesi pemberkatan dibekali payung kertas desain vintage nan autentik. Gerobak gelato juga diletakkan sebagai suguhan penawar kesegaran selagi menuju gelaran resepsi.


Nuansa perayaan berubah kian megah manakala selebrasi pernikahan dimulai. Kainkain menjuntai subtil membalut langit-langit ballroom. “Inspirasinya datang dari pertunjukan mode Chanel,” cerita Na. Di bagian tengahnya, sebuah lampu gantung kristal nan masif mengaksentuasi secara dramatis untuk paras lantai dansa yang glamor, di mana pasangan pengantin bergerak selaras permainan nadanada lagu Wildest Dreams dari soundtrack serial populer Bridgerton yang dilantunkan oleh trio pemain string. Untuk momen first dance bersama sang suami, Na mengganti gaun rancangan Lecia yang ia kenakan selama perjamuan makan malam, dengan busana koleksi brand Dada yang dirancang khusus oleh sang desainer mode sekaligus sahabat baiknya. Na dan Chris berdansa dihadapan para tamu yang duduk di meja bundar barisan depan sekitar lantai dansa.




Gempita kebahagiaan terasa hangat menyelimuti atmosfer resepsi dengan cocktail racikan istimewa yang disuguhkan dari bar berfasad material es (ide kreatif sang mempelai laki-laki). Perjamuan lezat terhidang di meja makan aksen perak yang tampil cantik berhiaskan rangkaian bunga merah tua. “Kami menginginkan pernikahan yang merefleksikan keanggunan klasik yang abadi, tetapi kami berharap semua orang terhibur dan membawa pulang memori indah dalam ingatan mereka. Kami juga menyebar kamera sekali pakai untuk mereka berbagi kenangan dengan kami. Benar-benar tak terlupakan, bahkan hanya memandangi foto-fotonya saja seakanakan membawa saya mengulang waktu ke hari itu, dan merasakan kebahagiaannya,” pungkas Na menutup cerita.