10 April 2026
Clarissa Tanoesoedibjo dan Anthony Putra Tjiptodihardjo Gelar Pernikahan di Los Angeles dalam Inspirasi 'Dune'
PHOTOGRAPHY BY Jose Villa
Satu kali untuk seumur hidup, pernikahan menjadi ladang harapan untuk para pengantin dalam mengukir momen yang tak terlupakan. Pada pernikahan Clarissa Tanoesoedibjo dan Anthony Putra Tjiptodihardjo, proses pengukiran momen dieksekusi dengan menjadikan tempat bersejarah sebagai lokasi digelarnya hari penting yang kelak dikenang seumur hidup. Kisah mereka dimulai lebih dari satu dekade lalu, saat usia keduanya baru menginjak 15 tahun. Namun, perjalanan keduanya untuk saling menemukan tidaklah instan. Selisih usia tiga tahun membuat Anthony sudah lebih dulu menjalani fase-fase kehidupan—dari bangku kuliah hingga awal karier—sementara Clarissa masih menyelesaikan pendidikan SMA. Meski demikian, takdir kerap mempertemukan mereka melalui lingkaran teman yang sama. Dalam percakapan yang ringan dan pertemuan tak terduga, benih persahabatan tumbuh, perlahan tapi pasti. Momen besar datang di pertengahan pandemi Covid-19, saat keduanya secara kebetulan berlibur ke Los Angeles.
Di kota yang hiruk-pikuknya terasa berbeda kala itu, hubungan mereka yang semula hanya sebatas teman akhirnya bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih istimewa. Dua setengah tahun pacaran menjadi waktu yang penuh pelajaran, terutama karena sifat keduanya yang sama-sama keras kepala dan sangat independen. Terbiasa menyelesaikan segalanya sendiri, mereka hampir tak pernah meminta bantuan satu sama lain, menjadikan komunikasi sebagai tantangan terbesar. Namun, cinta yang tulus membuat keduanya belajar untuk berkompromi, saling memahami, dan akhirnya menjadi tim yang solid—fondasi kuat menuju kehidupan pernikahan.

Lamaran Anthony kepada Clarissa pun dirancang dengan penuh kejutan, meskipun Clarissa sudah menduga waktunya akan tiba. Di Los Angeles, mereka mengunjungi sebuah properti di tengah pegunungan Malibu yang menghadap ke tebing dan perbukitan Malibu Hills, tempat yang kelak menjadi salah satu opsi lokasi pernikahan. Setibanya di sana, Clarissa disambut jejak kenangan berupa cetakan-cetakan screenshot dari percakapan WhatsApp mereka selama bertahun-tahun berteman. Jejak-jejak itu membawanya ke arah sebuah neon sign bertuliskan, “Will you marry me?”—sebuah momen yang penuh makna dan cinta.
Acara pernikahan Clarissa Tanoesoedibjo dan Anthony Putra Tjiptodihardjo di Los Angeles menyerap inspirasi dari film Hollywood berjudul Dune. Sebagai palet dasar, konsep dekorasi berangkat dari warna-warna yang ada di dalam film tersebut, menghidupkan elemen padang gurun dengan palet rona earthy tones seperti beige, nude, dan camel. Pemilihan tema ini bukan hanya estetika semata, tetapi juga simbolis akan California, negara bagian yang menjadi tempat cinta keduanya bersemi. Setiap detail dipikirkan dengan seksama, termasuk elemen air yang mengalir di sepanjang wedding aisle pada acara Holy Matrimony. Pilar-pilar melengkung dihiasi floral drapery dan layering di struktur-struktur yang dibangun selaras dengan keindahan matahari terbenam dan lanskap Los Angeles, menjadikan momen tersebut tak hanya sakral tetapi juga menawan secara visual.
“Khusus untuk acara Holy Matrimony, karena elemen air itu sangat berharga dan simbolis atas elemen kehidupan di pengaturan kisah yang ada dalam dunia Dune, maka kami fokus pada air yang mengalir sepanjang wedding aisle. Kami juga menggunakan dua set arched pillars yang simbolis atas gagasan ‘new beginning’, dan menghindari warna dekorasi yang bisa meng-overpower matahari terbenam dan lanskap kota Los Angeles yang sangat indah, sebagai background utama di acara pernikahan kami,” ujar Clarissa.
|
|
Clarissa Tanoesoedibjo mengungkapkan bahwa persiapan pernikahan ini tidak terlepas dari kerja sama erat dengan LXE Moments, sebuah tim yang memahami selera dan gaya pribadinya, untuk mewujudkan visi pernikahan kedua mempelai. “Desain pernikahan kami berangkat dari kepribadian kami yang minimalis tapi edgy, modern tapi tetap elegan, dan grande tapi terlihat praktis. Awalnya saya tidak punya visi wedding dream tapi setelah diskusi bersama tim LXE, mereka tahu persis bagaimana memahami dan mengarahkan visi kami bahkan sejak diskusi pertama. Saya rasa saling kenal itu penting karena pilihan desain untuk acara pernikahan pada akhirnya akan kembali kepada taste dan style kepribadian masing-masing bride dan groom,” katanya. Clarissa juga menekankan sejumlah elemen atau detail yang harus ada dalam keseluruhan dekorasi acara. Unsur alam seperti air, kayu, dan hijau-hijauan menjadi elemen utama dalam dekorasi, menciptakan kesan natural namun tetap elegan.
Pemilihan busana juga menjadi refleksi dari kepribadian Clarissa. Dengan tinggi badan 5’2”, ia menghindari model ballgown yang membuatnya merasa ‘tenggelam’. Sebagai gantinya, ia memilih desain dari Oscar de la Renta dan Vera Wang yang modern dan edgy untuk acara welcome dinner, Holy Matrimony, dan resepsi. Gaun untuk Holy Matrimony dirancang dengan pola bunga geometris, selaras dengan dekorasi pilar melengkung. Sementara itu, untuk resepsi, ia memilih gaun A-line dengan pola kupu-kupu yang melambangkan kehidupan baru.

Malam sebelum hari pernikahan tak luput dari kegembiraan yang diisi dengan kenangan manis. Clarissa Tanoesedibjo dan Anthony Putra Tjiptodihardjo mengadakan welcome dinner di Two Rodeo Drive, Beverly Hills, Amerika Serikat, galeri toko dan butik ikonis yang terletak di tengah-tengah Rodeo Drive, tempat di mana mereka berdua pertama kali bertemu. “Lokasinya merupakan tempat pertama kali saya dan Anthony bertemu sebagai teman, benar-benar tempat yang istimewa bagi kami berdua,” ujar Clarissa.
|
|
|
|
Bertempat di Palazzo di Amore, sebuah rumah bergaya Mediterania yang terletak di Beverly Hills, California, Amerika Serikat, pengikatan janji suci dilaksanakan dengan penuh khidmat dan haru antara Clarissa dan Anthony. Mempelai perempuan berujar, “Saya sangat gugup, tetapi begitu melihat pasangan saya, saya lebih merasakan bahagia dan bersemangat daripada perasaan takut dan cemas. Saya telah menantikan momen ini sejak lama. Walau perjalanan tidak akan selalu mulus tapi saya senang bisa menjalaninya dengan sahabat terbaik saya.”

Bagi Clarissa, hari istimewanya bukan hanya tentang kemewahan, tetapi juga tentang makna mendalam yang terselip di setiap langkah yang ia ambil di sepanjang aisle—sebuah perjalanan yang menyimbolkan awal kehidupan baru bersama sang belahan jiwa. “Dalam setiap detik, ada pelajaran yang melekat. Pernikahan, menurut saya, adalah tentang menyerahkan diri pada momen, membiarkan keajaiban hadir di tengah ketidaksempurnaan, dan merayakan cinta dengan mereka yang paling berarti. Saya percaya di balik setiap detail yang dipersiapkan, esensi sesungguhnya dari pernikahan terletak pada kebersamaan, kehangatan, dan kenangan yang abadi. Dalam perjalanannya, saya belajar untuk lebih merelakan hal-hal kecil yang tidak berjalan sesuai rencana. Menikmati setiap prosesnya, karena hari pernikahan adalah momen di mana semua orang yang Anda cintai berkumpul untuk merayakan cintamu. Itu adalah sesuatu yang tak tergantikan,” ujar Clarissa Tanoesoedibjo.





