LIFE

29 Oktober 2026

Langkah Ikut Berkontribusi dalam Penanganan Karhutla di Indonesia


Langkah Ikut Berkontribusi dalam Penanganan Karhutla di Indonesia

Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (photo DOC. Getty Images)

Indonesia kebakaran. Matahari yang seharusnya menerangi pagi terlihat selayaknya pendar lingkaran buram di balik kepulan asap. Dalam jarak pandang serba terbatas itu, pun bayangan sekitar tak jauh dari suram. Api tampak menari-nari liar. Semprotan air pemadam kebakaran tak cukup cepat mengejar geraknya. Luapan asap bikin udara jadi berat. Rasanya sesak. Untuk melakukan aktivitas harian, yang biasanya tak perlu pikir panjang, kini memanifestasikan keputusan krusial yang penuh pertimbangan.

Sepanjang tahun 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menempatkan Indonesia dalam dalam pusaran krisis lingkungan. Dampaknya kian meluas hingga menjangkiti kesehatan masyarakat. Data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (SIPONGI) mencatat luas area terbakar mencapai lebih dari 202 ribu hektare hanya di semester pertama. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sekitar 69% dibandingkan periode yang sama di tahun 2025.

Skala krisis semakin jelas tatkala data resmi bersanding dengan laporan organisasi kemanusiaan serta pemantauan satelit. Indonesia Humanitarian Coordination Platform (IHCP) melaporkan sekitar lebih dari 250 ribu hektare lahan terbakar di enam provinsi hingga 19 Oktober 2026. Angka tersebut memiliki cakupan perhitungan berbeda dari SIPONGI. Meski begitu, keduanya memperlihatkan satu kenyataan: karhutla tahun ini bukan sekadar rangkaian insiden lokal yang berdiri sendiri. Dampaknya melampaui batas kawasan terbakar.

Hutan dan lahan gambut bukan sekadar bentang alam. Keduanya merupakan bagian penting dari keseimbangan ekologis kawasan yang menopang kehidupan masyarakat. Ketika api menjalar, dampaknya tak berhenti pada vegetasi yang hangus. Bulan Agustus silam, The New York Times menyoroti kebakaran gambut yang berlangsung selama berminggu-minggu di Kalimantan memicu kekhawatiran terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Lalu pada tengah Oktober 2026, Reuters mencatat setidaknya ada sekitar 31.000 kasus gangguan pernapasan terkait kebakaran menghantui hanya provinsi Kalimantan Tengah. Dalam skala lebih besar, mencakup tujuh provinsi terdampak, data Kementrian Kesehatan menemukan 311.363 kasus ISPA, termasuk 70.239 kasus pada balita. Asap telah bergerak melintasi wilayah. Imbasnya mengganggu aktivitas, mengancam kesehatan, hingga bahaya yang tak selalu kasatmata.


photo DOC. Getty Images.

Ancaman serupa juga membayangi satwa liar yang kehilangan habitat dan sumber pakan akibat kebakaran. Paparan asap, melemahnya kondisi fisik, hingga kerusakan ekosistem menempatkan mereka dalam situasi yang semakin rentan. Pada Agustus hingga September 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelamatkan 24 satwa liar dari 18 lokasi di tiga kabupaten. Mereka terdiri atas 15 orangutan, enam trenggiling, satu bekantan, satu kukang, dan satu musang tenggalung. Angka tersebut baru merekam sebagian dari dampak yang terjadi di Kalimantan Barat, belum termasuk wilayah Kalimantan lainnya, dan habitat satwa di Sumatra, Sulawesi, hingga Papua.

Ketika sebuah bencana berlangsung berkepanjangan, rasanya bentuk kepedulian tidak cukup berhenti sebatas dorongan emosional. Tidak semua orang dapat hadir langsung di lokasi kebakaran, tetapi dukungan tetap bisa menjangkau mereka yang berada di garis depan. Melalui organisasi lingkungan, lembaga kemanusiaan, dan kelompok bantuan lokal, kontribusi publik dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak.

Sejumlah organisasi telah memublikasikan program bantuan atau penggalangan dana terkait karhutla 2026. Untuk memastikan kontribusi sampai kepada pihak yang tepat, pembaca perlu memeriksa kanal resmi, status kampanye, serta transparansi penggunaan dana sebelum berdonasi. Berikut daftar organisasi yang dapat menjadi referensi kita untuk menyalurkan bantuan, lengkap dengan informasi program dan wilayah kerja yang relevan.

Greenpeace

Wilayah: Kalimantan & Sumatera

Berdasarkan pantauan tim Greenpeace, keterbatasan pasokan air menjadi salah satu kendala utama penanganan karhutla. Dalam program iNTERUPSI di iNews TV, Kiki Taufik, Global Head of Greenpeace Indonesia Forest Campaign, mengungkapkan bahwa air untuk pemadaman harus diambil dari Sungai Kapuas, dengan waktu tempuh hingga dua jam setiap kali persediaan habis. Kondisi ini mempertegas pentingnya dukungan bagi tim yang bekerja di lapangan. Melalui Tim Cegah Api (TCA), Greenpeace Indonesia berkolaborasi dengan masyarakat lokal, komunitas terdampak, dan BPBD untuk memperkuat upaya pencegahan serta pemadaman, sekaligus memberikan edukasi kepada warga. Upaya ini didukung kampanye Hutan Tanpa Api, yang menghimpun donasi publik untuk pengadaan peralatan pemadam, alat pelindung diri, dan kebutuhan operasional relawan. (Greenpeace/Hutan-Tanpa-Api)

Yayasan IAR Indonesia

Wilayah: Kalimantan Barat

Yayasan IAR Indonesia (YIARI) berfokus pada penyelamatan dan rehabilitasi satwa liar, sekaligus perlindungan habitat dan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan. Seluruh satwa yang dievakuasi dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat, yang dilengkapi klinik satwa, fasilitas karantina, dan area Sekolah Hutan. Di luar penanganan darurat, YIARI juga menjalankan pembibitan pohon lokal untuk mendukung pemulihan koridor hutan yang rusak akibat kebakaran. (YIARI/Karthula)

Centre for Orangutan Protection

Centre for Orangutan Protection (COP) berfokus pada kesejahteraan satwa, khususnya orangutan, di sejumlah wilayah Indonesia. Saat kebakaran hutan dan lahan melanda Kalimantan, salah satu fasilitas rehabilitasi milik Centre for Orangutan Protection (COP) yang berlokasi di Berau, Kalimantan Timur, sempat hampir terjangkau titik api (pada radius kurang dari 500 meter hingga 1 kilometer dari kandang.) Akibatnya, kegiatan sekolah hutan dihentikan. Untuk melindungi anak orangutan dari risiko iritasi mata dan gangguan pernapasan akibat kabut asap, aktivitas dialihkan ke dalam ruangan. (COP)

SharingHappiness

Wilayah: Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan

SharingHappiness menggalang dukungan bagi tiga kelompok yang paling rentan terdampak karhutla: relawan pemadam kebakaran, masyarakat setempat, dan satwa liar. Bantuan yang dihimpun mencakup perlengkapan keselamatan dan pelindung pernapasan bagi relawan, serta masker, air bersih, bahan pangan, dan vitamin untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga di tengah paparan asap. Perhatian terhadap satwa liar juga diwujudkan melalui kampanye Selamatkan Satwa Terdampak Karhutla Kalimantan. Bekerja sama dengan yayasan dan organisasi lokal, seperti Rumah Zakat, dukungan diarahkan pada kebutuhan evakuasi, penyediaan pakan, serta perawatan medis bagi satwa yang kehilangan habitat akibat kebakaran. Upaya ini menjadi bagian dari respons yang tidak hanya melindungi masyarakat, tetapi juga menjaga kelangsungan hidup satwa di tengah kerusakan ekosistem. (SharingHappiness/Karhutla-Kalimantan)

Relawan Nusantara

Wilayah: Sumatra, Kalimantan

Dukungan logistik menjadi bagian penting dari upaya Relawan Nusantara di lapangan. Mulai dari makanan siap saji, air minum, vitamin, dan suplemen bagi petugas pemadam serta relawan, hingga perlengkapan pelindung pernapasan untuk menghadapi paparan asap. Bantuan yang dikerahkan juga mencakup penyediaan posko istirahat, layanan kesehatan bergerak bagi warga terdampak, terutama anak-anak, serta pasokan air bersih bagi masyarakat dengan keterbatasan akses. (Relawan Nusantara/respon-darurat-karhutla)

Patungan Untuk Hutan

Wilayah: Kalimantan, Sumatra, Papua

Sebuah inisiatif crowdfunding bersifat independen dari masyarakat Indonesia. Pemanfaatan donasi mencakup tiga tahap: mitigasi melalui patroli, pemantauan titik api, dan penyediaan peralatan pemadam; respons darurat berupa perlengkapan keselamatan, kebutuhan pokok, dan air bersih bagi warga terdampak; hingga restorasi melalui pemulihan habitat satwa, termasuk penanaman kembali pohon. Dalam pelaksanaannya, inisiatif ini mengedepankan kolaborasi dengan organisasi lingkungan, yayasan lokal, serta komunitas relawan yang memiliki pengalaman langsung dalam perlindungan hutan. (KitaBisa/Patungan-Untuk-Hutan)