22 Juni 2026
Timothy Marbun: Apakah Kita Punya Cukup Waktu?
watches Tudor photography by Norman Fideli for ELLE Indonesia June-July 2026; styling Ismelya Muntu
"Daddy how long do flowers live? ” Ini pertanyaan yang dilontarkan anak saya yang berusia 7 tahun saat kami menemukan sebuah bunga yang unik di jalan. Tanpa berpikir panjang saya menjawab: mungkin sekitar 1 atau 2 minggu. Ia lalu bertanya: kok pendek sekali hidupnya? Dalam benak saya terpikir untuk menjawab: ya kalau kamu membandingkannya dengan usia manusia ya pasti terasa pendek. Tapi saya merasa bukan itu yang ingin ia ketahui. Saya lalu menjawabnya: karena ia hanya butuh 1 sampai 2 minggu untuk memenuhi tujuan hidupnya.
Sebuah bunga telah melakukan seluruh tugas hidupnya hanya dalam masa 1 hingga 2 minggu itu. Ia telah memberi makan lebah dan serangga, ia telah melepas benih untuk mempertahankan spesiesnya, ia telah bersolek cantik penuh warna untuk dinikmati manusia, dan kali ini, bunga yang telah jatuh itu bahkan dapat tugas tambahan: mengajarkan saya tentang hidup.
Alam punya cara yang aneh untuk membuat kita belajar. Terus terang, saya kaget mendengar jawaban saya sendiri. Jawaban itu memang ditujukan bagi anak saya, tapi saya merasa jawaban saya lebih berbicara pada hati saya sendiri. Bagi sebuah bunga, hidupnya bukan pendek, hidupnya: cukup.

watches Hublot photography by Norman Fideli for ELLE Indonesia June-July 2026; styling Ismelya Muntu.
Waktu memang sangat terukur, ada 60 menit dalam 1 jam, ada 60 detik dalam satu menit. Tapi waktu tidak pernah terasa sama. Waktu terasa begitu cepat saat kita sedang ngobrol seru dengan teman lama, tapi terasa begitu lambat saat kita di tengah kemacetan kota. Begitu cepat di hari Minggu, dan begitu lambat di hari Senin. Di semua kondisi ini, 1 jam tetap 60 menit, 1 menit tetap 60 detik. Kitalah yang membuatnya berbeda.
Perenungan tentang arti waktu bukan hal yang baru. Ribuan tahun silam filsuf Romawi, Seneca, pernah menulis sebuah esai berjudul De Brevitate Vitae yang berarti “Tentang Singkatnya Hidup”. Salah satu kutipan yang paling terkenal dari esai itu adalah: “Hidup manusia itu sebenarnya cukup panjang, hanya saja kita membuatnya singkat karena sering menyia-nyiakan waktu.”
Seneca mungkin tidak menggunakan masa hidup sebuah bunga sebagai contoh, tapi saya jadi tergelitik untuk bertanya: adakah sedetik pun masa hidup bunga yang tersia-siakan? Rasanya tidak. Alam sudah mengatur kehidupannya sedemikian sempurna, sampai tidak sedikitpun waktu hidup bunga itu menjadi sia-sia. Saya jadi berpikir: enak juga ya jadi bunga, enggak bingung seperti kita manusia yang sepanjang hidupnya sering bertanya, sebenarnya saya hidup untuk apa? Dan kalaupun kita cukup beruntung untuk memahami tujuan hidup kita, mungkin pertanyaan berikutnya adalah: berapa lama lagi waktu yang saya miliki untuk memenuhi tugas ini?
Terus terang, sampai titik ini mungkin Anda mulai terpikir: sepertinya saya terlalu over thinking hanya karena sebuah bunga, dan saya mungkin setuju dengan pernyataan itu, tapi tidakkah kita sering bertanya dalam hati tentang bagaimana seharusnya kita mengisi waktu kita di dunia? Dan apakah kita telah mengisi waktu hidup kita dengan baik? Terutama saat hidup kita sedang tidak baik-baik saja?

watches Breguet & Bvlgari photography by Norman Fideli for ELLE Indonesia June-July 2026; styling Ismelya Muntu.
Hampir seabad setelah Seneca menulis esai itu, Kaisar Roma, Marcus Aurelius menulis bukunya yang tersohor berjudul Meditations di mana ia pun menuliskan perenungannya tentang waktu. Mungkin kutipan yang paling terkenal adalah: “Bukan kematian yang harus kita takuti, tapi kita harus takut bila tidak pernah memulai hidup.” Aurelius bukan bicara tentang rentang waktu, tapi ia mengingatkan bahwa sesungguhnya waktu yang benar-benar kita miliki, yang benar-benar di bawah kendali kita, yang benar-benar kita jalani, hanyalah saat ini. Sehingga waktu yang benar-benar penting, adalah saat ini. Bukan kemarin, bukan besok, dan jelas bukan hari kematian kita.
Kalau diberi umur lebih panjang, saya yakin Seneca dan Marcus Aurelius tidak akan berhenti menulis perenungan baru tentang waktu dan kehidupan, tapi dengan singkatnya kehidupan yang mereka jalani, apa yang mereka tulis pun sudah cukup. Dan ternyata hidup bukan tentang memperpanjang waktu yang kita miliki, tapi tentang bagaimana membuat berapa pun waktu yang kita miliki itu: cukup.
Saat Anda membaca ini, bunga yang tadi ada di tangan anak saya mungkin telah hilang sepenuhnya. Tapi dalam masa hidupnya yang pendek itu, bunga tadi telah menjalankan seluruh tugasnya, dan bahkan lebih. Bunga tadi hidup di masa lalu, tapi pengingat bahwa hidup harus diisi setiap detiknya secara sadar, mungkin akan bertahan di benak saya, dan semoga di benak Anda juga, hingga bertahun-tahun ke depan. Semoga di akhir perjalanan kita suatu hari nanti, kita bisa mengatakan pada diri sendiri bahwa masa hidup yang telah kita jalani: cukup.