17 Agustus 2026
Pandji Pragiwaksono: Kemerdekaan untuk Tidak Selalu Benar
Jasmine Kusuma (IVY Model) photography by Julius Juan Justianto for ELLE Indonesia October 2025; styling Ismelya Muntu.
Kalau saya diminta menyebut satu berkah terbesar dari kemerdekaan, jawabannya sederhana: pilihan. Kedengarannya biasa saja. Padahal justru pilihan adalah sesuatu yang paling mahal ketika sebuah bangsa tidak merdeka. Ada orang yang bilang kemerdekaan itu soal kebebasan. Saya lebih suka menyebutnya pilihan. Karena kebebasan tanpa pilihan itu seperti ikut pemilu yang calonnya cuma satu: sah, tapi ada yang terasa kurang.
Aneh ya, kita sering mengeluh negara ini berisik. Padahal justru karena merdeka, kita jadi boleh berbeda. Saya justru lebih khawatir kalau semua orang tiba-tiba sepakat. Pengalaman sejarah mengajarkan bahwa masyarakat yang terlalu kompak sering kali bukan karena semua orang berpikir sama, melainkan karena ada yang melarang mereka berpikir berbeda.
Masalahnya, kita sering salah mengira bahwa demokrasi adalah soal menang-menangan pendapat. Padahal demokrasi jauh lebih membosankan daripada itu. Demokrasi adalah kesediaan duduk bersama orang yang tidak sepakat dengan kita. Di situlah hubungan demokrasi dengan kebenaran menjadi menarik. Banyak orang menganggap demokrasi membutuhkan satu kebenaran yang mutlak. Saya tidak sepenuhnya setuju. Yang dibutuhkan demokrasi bukan kesepakatan tentang semua hal, melainkan kesediaan untuk terus mencari kesepakatan melalui dialog.

Jasmine Kusuma (IVY Model) photography by Julius Juan Justianto for ELLE Indonesia October 2025; styling Ismelya Muntu.
Bayangkan ada yang bertanya, “Bagaimana jalan menuju Monas dari Bintaro?” Jawabannya bisa banyak. Lewat tol bisa. Lewat arteri bisa. Lewat Tanah Abang bisa. Semua benar. Baru ketika pertanyaannya berubah menjadi, “Mana yang paling cepat?” diskusinya mulai mengerucut. Bahkan setelah semua orang selesai berdebat pun belum tentu ketemu jawaban terbaik. Lima belas menit kemudian Google Maps bisa berubah pikiran karena ada truk mogok. Hidup memang suka begitu. Makanya saya agak curiga sama orang yang terlalu cepat bilang, “Pokoknya ini satu-satunya jalan.”
Artinya, dalam hidup, benar dan salah sering kali bergantung pada konteks. Yang mutlak justru kebutuhan kita untuk terus berdialog. Sayangnya, kemampuan itu masih langka.
Di Indonesia, orang yang berbeda pendapat sering diperlakukan seperti musuh. Padahal saya bisa tidak setuju dengan Anda tanpa membenci Anda. Saya bisa menganggap argumen Anda lemah tanpa menganggap Anda manusia yang gagal. Dua hal itu berbeda. Kita sudah belajar berbicara, yang belum kita pelajari adalah mendengar. Kebebasan berbicara itu satu arah, sedangkan dialog membutuhkan keterampilan yang lebih sulit: mendengar, memahami, tahu kapan menyela, tahu kapan berhenti, bahkan tahu kapan berkata, “Saya rasa kita tidak akan sepakat, dan itu tidak apa-apa.”

Coco (Priscillas Models) photograph by Manolo Campion for ELLE Indonesia May 2024 styling Cheryl Tan
Masalah berikutnya datang ketika semua orang menjadi media. Sekarang informasi datang lebih cepat daripada kemampuan kita mencernanya. Notifikasi munculnya lebih cepat daripada refleksi. Yang lebih gawat sekarang bukan lagi hoaks, yang lebih berbahaya adalah informasi yang baru setengah kita baca, tetapi sudah kita jadikan dasar kesimpulan yang utuh.
Lalu algoritma ikut memperparah keadaan. Padahal dia bukan guru. Bukan juga filsuf. Dia cuma pelayan yang sangat patuh. Apa yang sering kita klik, itu yang disajikan lagi. Apa yang sering kita marahi, itu juga yang terus muncul. Algoritma itu sebenarnya seperti teman yang terlalu suportif. Apa pun yang kita bilang, dia jawab, “Iya lagi, iya lagi.” Kalau teman manusia berlaku seperti itu, biasanya kita bilang penjilat. Kalau namanya algoritma, kita malah betah. Padahal dalam hidup, kita juga butuh teman yang sesekali bilang, “Kayaknya lu keliru deh.” Lama-lama kita hidup di dalam ruangan yang seluruh dindingnya adalah cermin. Kita merasa sedang melihat dunia, padahal cuma melihat pantulan diri sendiri. Akhirnya yang kita cari bukan bukan lagi kebenaran. Bahkan bukan juga pembenaran. Yang kita cari adalah perasaan bahwa kita benar.
Media sosial kadang mengingatkan saya pada pertandingan tinju yang sangat aneh. Dua orang masuk ring, berdiri saling membelakangi, memukul ke arah masing-masing. Tidak ada yang benar-benar mendengar lawannya. Tapi dua-duanya pulang merasa menang. Padahal tidak ada pemenang. Yang menang cuma engagement.

Kiara & Nana (Persona) photography by Zaky Akbar for ELLE Indonesia April 2025; styling Sidky Muhamadsyah
Di Indonesia, kita memberi terlalu banyak drama pada benar dan salah. Kalau benar, kita jadi sombong. Kalau salah, kita merasa malu. Padahal santai saja. Hari ini Anda benar, besok bisa salah. Hari ini saya salah, besok bisa benar. Yang bahaya itu bukan salah. Yang bahaya adalah begitu cinta sama pendapat sendiri sampai fakta pun disuruh antre. Kalau kita berhasil mencabut drama dari dua kata itu, kita akan lebih mudah mengakui kekeliruan, akan lebih mudah meminta maaf, dan yang paling penting, akan lebih mudah belajar.
Menurut saya, itu salah satu teladan paling penting yang bisa diberikan oleh siapa pun yang punya pengaruh. Bukan menunjukkan bahwa diri kita selalu benar, tetapi menunjukkan bahwa mengaku salah itu bukan berarti dunia kiamat.
Lalu apakah semua pendapat memiliki bobot yang sama? Haknya sama. Bobotnya belum tentu. Semua orang berhak memberi saya masukan tentang cara menulis komedi. Tapi kalau saya lebih mendengarkan orang yang belum pernah menulis satu jokes daripada orang seperti Raditya Dika—yang sudah puluhan tahun menulis, mengasah materi, dan mempelajari komedi jauh lebih lama daripada saya—berarti masalahnya bukan di demokrasi. Masalahnya ada di saya.
Demokrasi memberi semua orang hak untuk berbicara. Tapi kebijaksanaan mengajarkan kita untuk memilih siapa yang layak didengarkan lebih dulu.

Nana (Persona) photography by Ikmal Awfar for ELLE Indonesia 2025; styling Alia Husin.
Saya rasa kualitas demokrasi tidak akan pernah lebih tinggi daripada kualitas warganya. Karena itu, yang paling kita butuhkan bukan sekadar orang berijazah, melainkan orang yang haus belajar. Saya percaya kita adalah hasil dari keputusan-keputusan yang kita ambil. Dan keputusan kita sangat bergantung pada apa yang kita tahu. We are what we know. Semakin luas pengetahuan kita, semakin banyak sudut pandang yang kita miliki untuk mengambil keputusan. Kalau itu terjadi pada semakin banyak orang, kualitas demokrasi ikut naik.
Mungkin itulah bentuk kemerdekaan yang paling sulit diperjuangkan hari ini: bukan kebebasan untuk berbicara, melainkan kebebasan untuk berkata, “Saya belum tahu.” Karena demokrasi tidak runtuh ketika orang berbeda pendapat. Demokrasi mulai rapuh ketika semua orang merasa tidak mungkin salah. Karena pada akhirnya, bangsa yang merdeka bukan bangsa yang selalu sepakat, tapi bangsa yang tidak pernah berhenti berdialog.