26 Februari 2026
Olafur Eliasson Berdialog Lewat Dimensi Ruang, Cahaya, dan Waktu
Di dalam ruang bercat hitam pekat, kabut tipis bergerak gemulai merajut kehadiran. Ada semburat pelangi terlihat samar-samar pada permukaannya. Saat tertangkap mata, visualnya begitu memikat—persis merepresentasikan tajuk yang tersemat padanya: Beauty. Lalu seketika rupa nan menawan itu lenyap dari pandangan, meninggalkan keheningan dalam ruang gelap. Kemana hilangnya keindahan itu? Anda kemudian mempertanyakan realitas atas eksistensinya.
Beauty merupakan instalasi karya Olafur Eliasson, seniman berdarah Denmark–Islandia, yang saat ini meruang di Museum MACAN melalui pameran dunianya, Your Curious Journey. Terbentuk dari pancuran air halus melalui pipa berongga dan disorot pencahayaan. Lahir tahun 1967 di Kopenhagen, dan tumbuh besar di antara Denmark serta Islandia, ia membawa ingatan akan lanskap alam yang magis dari tempatnya bertumbuh ke dalam praktik berkarya. Air, pencahayaan, dimensi ruang, hingga skala waktu menjelmakan material artistik yang melibatkan kesadaran.

Beauty (1993) by Olafur Eliasson.
Seni di tangan Eliasson bukan sekadar objek untuk dipandang. Ada keheningan reflektif dalam karya-karyanya yang meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Melalui seni, ia membuka ruang aman untuk merasa selagi membicarakan isu-isu kemanusiaan. Interaksi audiens menjadi titik tumpuan kreativitas yang membangun pengalaman transformatif. Sebab, “Dengan merasakan berarti terhubung, dan terhubung berarti peduli pada dunia di sekitar kita,” ungkapnya.
ELLE Indonesia menelusuri pendekatan artistik tersebut secara lebih jauh tatkala berjumpa dengan sang seniman sebelum malam pembukaan pamerannya pada 28 November 2025 silam.

Ice Watch (2014) at Bankside, outside Tate Modern London 2018; (photography by Charlie Forgham-Bailey, via https://olafureliasson.net/)
Olafur, apa yang memicu rasa keingintahuan Anda akhir-akhir ini?
“Belakangan, saya tertarik pada batas-batas persepsi personal. Sejauh mana saya barangkali luput melihat hal-hal yang kasatmata. Sebab kita kerap mengira bahwa apa yang terlihat adalah realitas yang kita pahami. Namun, ada fenomena tertentu yang hanya bisa terlihat ketika kita memperluas kesadaran. Di sanalah rasa keingintahuan menghadirkan pengalaman baru, sekaligus cara-cara baru untuk terhubung dengan dunia.”
Karya Anda berulang kali mengeksplorasi pencahayaan sebagai material artistik. Apa makna yang dihadirkan oleh cahaya bagi Anda?
“Kehadiran cahaya sangat magnetis. Jika Anda perhatikan, cahaya tidak pernah benar-benar terlihat sampai ia bersinggungan dengan sesuatu. Artinya yang kita lihat bukan cahaya itu sendiri, melainkan dampaknya. Jadi cahaya sesungguhnya memiliki kualitas introspektif yang membuka ruang untuk kita meninjau ulang realitas atas apa yang terlihat.”
Sebagaimana terjadi dalam Room for One Colour (manifestasi di Museum MACAN: Yellow Corridor)?
“Room for One Colour (1997) mereduksi seluruh spektrum warna dalam lanskap monokromatik. Dengan membatasi penglihatan, karya ini mengajak Anda merefl eksikan bagaimana persepsi visual turut dibentuk oleh cara tubuh merespons kebenaran realitas.”

Yellow Corridor (1997) by Olafur Eliasson at Museum MACAN (photo DOC. Museum MACAN)
Ketika berkreasi dengan material yang tak berwujud, seperti cahaya; apakah Anda mencipta berlandaskan emosional?
“Bagi saya, mencipta dengan emosi berangkat dari ketertarikan pada ruang yang fana, serta pengalaman akan dematerialisasi—sebuah upaya untuk melepaskan diri dari obsesi fetisisme terhadap objek. Dematerialisasi berarti menempatkan pengalaman akan kehadiran diri sebagai pusat. Yang saya maksud tentang kehadiran adalah sejauh mana kita merasa selaras dengan apa yang kita rasakan. Di sana, emosi selalu hadir. Namun apakah kita cukup berani untuk mengakui dan menelusuri akar yang memunculkan emosi tersebut. Saya percaya bahwa perasaan bukan sesuatu yang statis; ia dapat dipahami, dinegosiasikan, bahkan diubah.”
Elemen-elemen artistik itu pun turut memengaruhi terciptanya perubahan pada karya-karya Anda. Apakah secara sadar Anda memang menghadirkan gagasan temporalitas dalam praktik artistik Anda?
“Saya tertarik pada bagaimana seni dapat membantu kita melihat temporalitas, sekaligus mempertanyakan apa yang kita anggap sebagai realitas. Dalam Your Curious Journey, pengalaman bukanlah sesuatu yang pasif, tetapi diciptakan oleh keingintahuan dan respons personal. Karena pada akhirnya, realitas tidak pernah sepenuhnya berada “di luar sana.” Apa yang kita lihat, rasakan, dan lakukan selalu turut membentuk dunia tempat kita berpijak.”

The Seismographic Testimony of Distance (2024 - 2025) by Olafur Eliasson.
Apakah alasan ini yang melatarbelakangi aspek sensoris menjadi esensial dalam praktik artistik Anda?
“Manusia pada dasarnya sangat sensitif. Kita memiliki jauh lebih banyak indra daripada lima yang utama. Namun dalam kehidupan sehari-hari yang menuntut efi siensi, kepekaan itu kerap kita redam. Kita cenderung membangun mekanisme pertahanan agar tidak kewalahan oleh informasi dan rangsangan. Bagi saya, merasakan berarti terhubung; dan terhubung berarti peduli pada dunia di sekitar kita.”
Karya Anda juga memanfaatkan elemen ruang, yang kerap Anda sebut sebagai “situasi keterlibatan”. Bagaimana Anda merancang ruang aktif tersebut dalam Your Curious Journey?
“Ruang adalah entitas yang sarat makna, terkodifi kasi, dan politis; ia membentuk kita, begitupun sebaliknya. Dalam Your Curious Journey, saya mencoba menghadirkan ruang-ruang yang memberi izin untuk kita melambat. Karena ketika melambat, kita mulai benar-benar melihat lebih banyak kehidupan di sekitar kita. Ekshibisi ini merupakan ruang pengalaman di mana kehadiran, waktu, dan persepsi saling bernegosiasi. Pada situasi itu, atmosfer kian intens, tetapi di situlah pula peluang untuk membayangkan cara-cara baru dalam berpikir, merasakan, dan hadir di dunia."