23 Februari 2026
Anggun Menggurat Arti Bertumbuh Sebagai Seniman
PHOTOGRAPHY BY Thomas Sito
styling Ismelya Muntu; fashion Sapto Djojokartiko; makeup Ryan Ogilvy; hair Yez Hadjo
Anggun terlahir sebagai seniman; seorang penyanyi, dan—sebagaimana penuturannya—selamanya ia akan bernyanyi. Tidak ada profesi yang ingin ditekuni olehnya selain di bidang musik. Ia bahkan pernah menolak mentah-mentah peluang bermain peran Bond Girl (untuk film The World Is Not Enough). Dengan kemantapan, ia berkata, “Ada banyak orang yang dilahirkan untuk menjadi bintang film. Saya dilahirkan sebagai penyanyi. My calling is music.”
Momen itu adalah tahun-tahun terakhir sebelum milenium abad ke-21. Ketika identitas James Bond masih disandang Pierce Brosnan; di masa yang sama, Anggun baru saja menapaki karier musik internasionalnya. Ia melejitkan sosoknya ke tengah percakapan global dengan album debut Au nom de la Lune (1997), yang juga dirilis bertitel Snow on the Sahara. Karyanya mencetak hit di berbagai negara Eropa, Asia, sekaligus menorehkan jejak musisi perempuan Indonesia pertama di tangga lagu Billboard Amerika Serikat.
Lebih dari setengah abad berjalan sejak itu. Suara Anggun masih bergema. Namun, terjadi sebuah anomali dalam lima tahun terakhir: ruang pertunjukan Anggun tampak meluas ke ranah sinema. Bukan lagi semata lewat soundtrack yang mengiringi jalannya adegan, seperti di serial televisi Passions atau film Transporter 2. Presensinya untuk bermain peran, dan ia bukan sekadar berlakon sebagai dirinya sendiri.
“Seandainya tawaran Bond Girl itu datang di era Daniel Craig, I probably would say yes,” ujarnya tergelak. Anggun sekadar berkelakar—walaupun ia memang menggemari aksi Daniel Craig dalam waralaba film mata-mata Inggris tersebut. Terlepas dari itu, pengandaiannya lebih merujuk titik momentum. “Pada masa itu, hidup saya berada di musik, sehingga saya mendedikasikan seluruh waktu dan energi saya hanya pada musik. Fokus saya adalah menciptakan musik yang bagus, yang mampu menginspirasi,” katanya.

fashion Pamela Usanto.
Kami duduk bersama pada suatu siang di awal bulan Desember 2025 silam di Jakarta. Anggun sedang kembali ke kampung halaman untuk sejumlah pekerjaan promosi film Para Perasuk, karya teranyar sutradara dan penulis naskah Wregas Bhanuteja, dimana Anggun menjadi salah satu pemeran kunci di dalamnya. Ditemani seporsi sate ayam, plus combro sebagai kudapan, Anggun berbagi cerita tentang ranah artistiknya yang baru, yang dilandasi oleh gerak kiprahnya selama 40 tahun.
“Lalu seiring waktu, dan pengalaman hidup yang kian bertambah pengalaman hidup, saya menyadari pentingnya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mencoba hal-hal baru. Sebab lama bergerak di satu wilayah yang sama selama berpuluh-puluh tahun bertendensi membuat seseorang kehilangan gairah. Jika tidak terbuka pada kebaruan, kita bisa berhenti tumbuh,” ia menjelaskan intensinya saat ini, “Terlebih setelah kini menginjak fase usia 50-an, dorongan untuk mempelajari hal-hal baru itu pun semakin terasa menguat.” Anggun melalui a change of heart, dalam prosesnya bertumbuh sebagai seniman sekaligus individu.
Lahir di Jakarta pada bulan April 1974, Anggun memiliki animo yang kuat terhadap seni sejak kecil. Animo yang sedikit-banyak dirangsang oleh atmosfer rumah tempat ia tumbuh besar. Sebagai anak dari pasangan Dien Herdina dan Darto Singo yang merupakan penulis novel, Anggun terbiasa memperhatikan tindak tanduk seniman berkarya—apalagi ketika teman-teman seniman Darto kerap bertandang ke rumah. Di bawah bimbingan sang ayah, Anggun mengukuhkan animonya pada musik. “Saya berlatih vokal dan kepekaan nada didampingi bapak. Beliau tidak bisa bernyanyi, jadi bapak membeli buku olah vokal karya Pranadjaja untuk panduan kami belajar. Dia juga memberi pr menulis puisi, dan setiap hari memperdengarkan berbagai jenis musik di rumah,” ceritanya.
Anggun sempat rekaman untuk album anak-anak bersama sebuah label besar. Namun, karier musiknya baru benar-benar mewujud mulai tahun 1986. Diproduseri Ian Antono, ia meluncurkan sebuah album debut beraliran rock yang diberi tajuk Dunia Aku Punya. Kepopuleran datang tak lama setelahnya dengan kesuksesan lagu-lagu seperti Mimpi, Bayang-Bayang Ilusi, Tua-Tua Keladi, dan Takut. Sampai tahun 1994, Anggun telah mengantongi empat album solo, sejumlah album single dan kompilasi, serta sebuah album greatest hits. Ia bahkan mendirikan label rekaman independen: Bali Cipta Record. Di titik ini, ia mulai menjalankan peran lebih besar dalam proses kreatifnya menulis lagu juga sebagai produser eksekutif.
“Berkarya sebagai musisi sekaligus membesarkan label rekaman pada zaman itu benar-benar tantangan tersendiri,” ungkap Anggun. Persaingan industrinya cukup ketat, terutama dengan dominasi label-label yang lebih besar. Belum lagi masalah pembajakan karya yang menggerogoti kesejahteraan seniman (bahkan sampai hari ini). Bali Cipta Record tidak berumur panjang. Tetapi Anggun tak pesimis memandang perjalanan hidup seniman. Malah gairah bermusiknya semakin menggebu-gebu. Ia menambatkan hasrat pada panggung yang lebih luas: dunia internasional.

Berbekal tekad kuat, bakat, dan seluruh tabungan hasil berkarya di Tanah Air, Anggun menindaklanjuti mimpinya dengan merantau ke London, Inggris. “Sebagian juga didorong gejolak jiwa muda usia 20-an yang penuh percaya diri hingga membuat hal apa pun terasa mungkin untuk dilakukan,” ujarnya tergelak. Gelaknya bukan karena ia tak habis pikir akan insting masa muda dalam mempertaruhkan segalanya, melainkan bentuk apresiasi atas keberanian tersebut demi menembus batas. “Dipikir lagi, gusti Allah… siapa saya berani sekali bermusik di negeri orang. Tapi justru pikiran itu jugalah yang menjadi salah satu alasan saya perlu melakukannya.”
Berbincang dengan Anggun nyaris terasa tanpa jarak. Pribadinya humble dan hangat. Ia membuat suasana berinteraksi segera akrab. Sesekali ada selingan humor ringan yang menularkan tawa dalam caranya bercerita, bahkan ketika ia menelusuri kembali memori merintis karier di panggung global yang sarat lika-liku. Pengisahannya layaknya petualangan hidup yang dijalani penuh kepuasan. “Saya berangkat ke London seorang diri, tanpa satu pun kenalan yang bisa dituju. Sementara untuk merekam demo, saya butuh band. Jadi saya berkeliling kota mencari musisi untuk diajak kerja sama. Saya berburu dari pub ke pub; mencari kenalan lewat selebaran, pertunjukan live, sampai bertanya rekomendasi pada bartender-bartender setempat,” kisahnya, “Lalu saya hubungi mereka satu per satu dari telepon umum. Simpanan uang koin saya banyak sekali kala itu.”
Selesai persoalan band, langkahnya tersandung standardisasi para label. Rekaman demo lagunya berulang kali menemui berbagai penolakan. Mulai dari penolakan halus dibungkus nasihat membangun, hingga jawaban “tidak” yang singkat tanpa ruang diskusi. Ketika ada label yang akhirnya memanggil lebih lanjut, tawarannya tak kena harapan. “Alih-alih melihat saya solo, mereka menginginkan saya dalam formasi girl band,” cerita Anggun. “Namun itulah yang benar-benar saya hargai dari label-label pada masa itu, mereka meluangkan waktu untuk mendengarkan dan bersedia memberi umpan balik bagi artis-artis baru,” tuturnya, “The experience was the perfect school.”

fashion Biasa.
Butuh beberapa tahun “menimba ilmu” sebelum akhirnya Anggun menemukan jalannya menuju panggung musik internasional. Jalan itu bukan lewat London. Pada 1996, intuisi seniman membawanya hijrah ke Paris, Prancis, di mana ia bertemu orang-orang yang memperkenalkannya pada kekuatan world music. Sebuah fondasi kreatif yang melandasi formula proyek debutnya di luar Indonesia: album berbahasa Prancis, Au nom de la lune. Dirilis tahun 1997, karya tersebut mentransformasikan karakteristik musisi rock dalam diri Anggun menjadi bintang global.
Reputasi Anggun bergaung. Penginggrisan album Au nom de la lune dalam titel Snow on the Sahara membawa musiknya mengudara kian jauh lintas Eropa, Asia, hingga melanglang buana ke benua Amerika. Anggun resmi menjejaki tangga lagu Billboard Amerika Serikat dengan albumnya menduduki peringkat 23 di kategori Heatseekers Albums; single andalan Snow on the Sahara turut meraih posisi 16 Billboard Hot Dance Music dan Billboard Adult Top 40. “Saat pertama kali mendengar Snow on the Sahara, saya punya feeling, ‘ini dia!’” kenang nomine Best New Artist ajang Victoires de la Musique 1998 itu. Benar saja, rekaman demonya atas lagu tersebut memberikan ia kontrak rekaman empat album bersama label besar. Barangkali ada benang merah tak tampak antara lagu dan musisinya? Sebuah teori’ yang juga diyakini Anggun. “Saya beruntung diizinkan oleh penciptanya menyanyikan lagu tersebut, karena sebenarnya lagu ini sudah lebih dulu direkam oleh penyanyi lain, hanya belum dirilis,” katanya.
Selama lebih dari tiga dekade berkiprah di panggung global, Anggun telah mencetak lagu-lagu hit yang melintasi batas geografis melalui tujuh album studio—yang dirilis dalam tiga bahasa: Prancis, Indonesia, dan Inggris. Ia memikat dunia dengan vokal soulful bernuansa serak, yang kerap kali dinilai memberikan kedalaman emosional dalam lagu-lagunya. Karakter musiknya pun tak pernah berhenti pada satu melodi. Penerima gelar kehormatan Chevalier des Arts et des Lettres dari French Ministry of Culture ini bergerak selaras zaman; ia bereksperimen dengan musik pop, R n B, hingga elektronika. Tapi sudah lama sejak kali terakhir dunia mendengar ramuan musik anyar dari Anggun. Terhitung sewindu berlalu sejak album terakhirnya, 8. Alasannya, “Saya sudah sampai pada titik di mana, saya pikir, saya sudah cukup berkarya mencipta album.” Lebih dari sekali ia mengartikulasikan intensinya tersebut di hadapan publik. Begitu sering hingga memunculkan asumsi bahwa ia telah pensiun dari dunia musik.

fashion Pamela Usanto.
Kenyataannya, Anggun tidak pernah jauh dari panggung musik. Ia senantiasa tampil bernyanyi dari satu panggung ke panggung lain di berbagai negara. Suaranya juga menggemakan ranah teater musikal. Pementasan perdananya adalah Al Capone & Les Incorruptibles di tahun 2023. Lalu pada tahun berikutnya, ia mengambil peran Maria Magdalena di Jesus Christ Superstar. “Bernyanyi memberikan saya kebahagiaan tersendiri, karenanya saya akan terus bernyanyi selama masih ada kemampuan dan kesempatan,” ujarnya, “Tapi sekaligus saya ingin menantang diri mencoba hal baru. Kita hidup di dunia yang terus berkembang seiring zaman; dan kita harus beradaptasi dengan perkembangan itu. Buat saya, adaptasi itu berarti menelusuri dimensi-dimensi kreatif yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh.”
Teater musikal bukan satu-satunya dimensi kreatif yang dijajal Anggun dalam merengkuh kebaruan pengalaman. Dalam lima tahun terakhir, figurnya terlihat wira-wiri menjelmakan karakter-karakter fiksi di film televisi hingga layar lebar. Berawal dari peran kecil dalam layar televisi Coup de foudre à Bangkok (2020); lalu mengisi suara film animasi, Raya and the Last Dragon (2021); dan dengan Para Perasuk yang dijadwalkan meramaikan bioskop pada 2026, Anggun resmi jadi aktor layar lebar.
Saat kami berjumpa hari itu, produksi film Para Perasuk telah rampung, dan dalam hitungan minggu ke depan, film tersebut akan diputar untuk pertama kalinya ke hadapan publik melalui program penayangan sinema Festival Film Sundance 2026. Dalam narasi Para Perasuk, Anggun melakoni Guru Asri, pemimpin sanggar sambetan yang melestarikan keberlanjutan tradisi pesta kesurupan selaku hiburan di sebuah desa pinggiran Jakarta. Masalah terbesarnya: menemukan perasuk baru sebelum mata air tempat tinggal para roh binatang penyusup jiwa manusia berubah rupa jadi resor mewah. Naskah Para Perasuk ditulis menarik dengan kekuatan dialek setiap karakter, khusus untuk Guru Asri ditambah mantra ekspresif yang melibatkan improvisasi kompleks. “Wregas meminta saya menciptakan mantra untuk 20 roh binatang secara langsung di tempat selagi syuting. Tidak ada naskah, selain backstory singkat masing-masing binatang buat bekal berkreasi,” ungkap sang pemeran. Seolah-olah perannya belum cukup menantang, Anggun hanya dapat satu kali kesempatan take untuk tiap adegan merapal mantra. “Wregas menginginkan tiap adegan lahir secara organik. Pun lebih baik, karena saya sendiri tidak yakin mampu mengulang apa yang saya ucapkan ketika itu. Hahaha. Semoga hasilnya memuaskan,” ujar Anggun, “Tapi proses itulah yang membuat saya bangga menjadi bagian dari karya ini; ada banyak kejujuran dalam pembuatannya.”

fashion Pamela Usanto.
Tantangan-tantangan yang mengasah ketajaman artistik semacam itulah yang kini dicari Anggun. Sebuah ruang untuk terus membuka dirinya pada kemungkinan baru, sekalipun penuh risiko. Di usianya yang ke-52 tahun ini, dan dengan kesadaran akan perjalanan panjang yang telah membentuknya, Anggun memilih untuk tetap berada dalam posisi belajar. Tidak masalah bilamana artinya ia harus mulai dari awal. Ia malah amat tergugah menjalankan peran kehidupan seniman ‘pendatang baru’. Usia baginya, “Bukan alasan untuk menutup diri dari hal-hal baru hanya karena enggan memulai dari titik paling dasar.” Alih-alih batasan, usia menawarkannya keleluasaan untuk mencoba dan bertumbuh tanpa beban pembuktian. Sebuah sikap yang ia harap dapat ia suarakan, terutama kepada para perempuan seusianya; “Make yourself uncomfortable. Penting untuk kita menantang diri dalam bentuk apa pun, atau kita hanya akan berkutat dengan rasa lelah melakukan hal yang sama berulang-ulang.” Rasa nyaman tak pelak dapat menjelmakan adiksi yang berbahaya, ketika situasinya terasa begitu aman hingga membuat seseorang berhenti mempertanyakan sesuatu, berhenti gelisah, berhenti merasa ketakpuasan. Anggun enggan terlena kenyamanan itu, dan kesadaran tersebut merangsang gairah kreatifnya terus bertumbuh.