LIFE

11 Maret 2026

Lola Amaria Menantang Stigma Sinema


PHOTOGRAPHY BY Thomas Sito

Lola Amaria Menantang Stigma Sinema

style editor Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Yosafat Kurnia; makeup Archangela Chelsea; hair Eva Pical

Lama sudah Lola Amaria berpikiran bahwa ia tak akan lagi bermain peran. Derap artistiknya telah mantap tertambat di belakang layar. Kendati tidak ia pungkiri, di waktu-waktu tertentu selama 12 tahun absen, angan untuk kembali hidup dalam sepatu orang lain kerap melintasi pikiran. “Rasa kangen itu timbul tenggelam,” ujar sutradara, produser, dan penulis naskah ini. Karena alasan itu pula, ia menyimpan perasaannya sekadar dalam hati. Di benaknya, kerinduan tersebut layaknya romantisasi ingatan masa lalu.

Tawaran berperan sejatinya kerap mendekati Lola. Namun, sebagaimana penuturannya, “Yang hadir selalu tak pernah kena di hati.” Terkesan selektif, mungkin, tapi begitulah caranya menjaga arah. Ia menggenggam sebuah prinsip: “Ketika akhirnya saya kembali berakting, segalanya pastilah terasa tepat dan selaras dengan diri saya; baik perannya, penceritaannya, hingga momentum datangnya kesempatan itu.” Setahun silam, keyakinannya tersebut termanifestasi melalui Gowok: Kamasutra Jawa. Sebuah penampilan yang kembali mendefinisikan posisinya di antara jajaran aktor perempuan terbaik Indonesia.

Tatkala Hanung Bramantyo menemuinya dengan membawa naskah Gowok: Kamasutra Jawa, nomine Pemeran Utama Perempuan Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2025 itu tengah dilanda kelelahan luar biasa usai merampungkan proyek Eksil—film dokumenter pemenang penghargaan festival JOGJA-NETPAC Asian Film 2022 dan Festival Film Indonesia 2023—yang menghabiskan waktu pembuatan sepanjang 10 tahun. Ia butuh sarana penyegaran dari tekanan urusan balik layar. Terlepas dari itu, naluri artistiknya juga tergugah untuk mengetahui bagaimana jadinya narasi Gowok bilamana dikisahkan melalui perspektif laki-laki. Sebab menurutnya, “Perempuan dan laki-laki memandang dunia dengan kacamata yang tidak sepenuhnya sama. Meski barangkali tipis perbedaannya, tapi cukup untuk memengaruhi cara sebuah cerita disajikan di layar.”


Untuk film berlatar sejarah masyarakat Jawa pada rentang tahun 1950-an hingga akhir 1960-an itu, Lola menjelmakan Gowok—pendidik kehidupan berumah tangga bagi para laki-laki priyayi. Dijuluki Nyai Santi, karakter perannya hidup dalam bingkai nilai-nilai konservatif; menjunjung tinggi tradisi serta patuh terhadap sistem kelas yang mengakar. Ketika pertama kali menerima naskah Gowok, yang bersinggungan dengan intimasi intens, Lola secara lugas mempertanyakan visi narasinya. Sang pemeran menghadap sutradaranya, dan mendiskusikan konsensus terkait batas keleluasaan pengadeganan. Bukan lantaran ada ketakamanan dalam lingkungan kerjanya, “intimacy coach senantiasa dihadirkan sebagai pendamping profesional untuk menjamin keamanan setiap aktor di lokasi”. Tetapi, “Aturan yang jelas tetap perlu dirumuskan bersama-sama jauh sebelum pelaksanaan syuting,” tegasnya.

Selama pengalaman berperan, ia tidak pernah takut mendedikasikan diri seutuhnya kepada peran. Totalitas, dalam gagasan Lola, adalah “sebuah keharusan.” Namun ia sekaligus percaya, aktor yang baik paham batas profesional: apa yang boleh dan tak boleh dilakukan, selama berada di dalam maupun di luar lokasi syuting. Kejelasan merupakan fondasi awal yang penting bagi Lola. “Bahkan sebaiknya tertuang sebagai klausul di dalam kontrak kerja,” ia menambahkan, “Sehingga mengikat perilaku tak bertanggung jawab di bawah hukum.”

Ketegasannya dalam menyoroti persoalan tersebut tentu berlandaskan pengalaman dari perspektif dua sisi. Dalam perbincangan kami untuk edisi Women in Cinema majalah ELLE hari itu, saya pun menanyakan bagaimana realitas praktik aturan semacam itu benar-benar diterapkan di lapangan. “Setiap produksi punya kebijakan masing-masing, tapi saya yakin aturan itu pasti—dan seharusnya—ada,” jawabnya, “Saya hanya bisa bicara atas nama pribadi. Di setiap produksi saya, kejelasan aturan, berikut konsekuensinya, selalu tertulis hitam di atas putih. Dan berlaku bagi seluruh pihak yang terlibat di dalam produksi,” Pada akhirnya, kejelasan adalah untuk menghadirkan rasa aman. Terutama bagi perempuan, yang–sebagaimana kami berdua sepakati­ —kerap berjalan dengan posisi rentan. “Meski manusia sesungguhnya terlahir setara—cuma dibedakan perihal gender—tapi pada praktik sejarahnya, posisi perempuan sering kali lebih rentan. Tidak pernah benar-benar setara. Jadi, sebagai perempuan, saya merasa punya tanggung jawab menciptakan ruang perlindungan bagi sesama.”


Kiprah Lola Amaria di industri hiburan Tanah Air berangkat dari ajang pencarian bakat modeling Wajah Femina (finalis tahun 1997). Kemudian nama perempuan kelahiran Jakarta tahun 1977 ini dikenal publik sinema lewat penampilannya dalam film Ca-bau-kan (2002). Peralihan geraknya ke balik layar berangsur mulai tahun 2003. Sepanjang setengah abad membangun karier, langkah Lola di layar lebar tampak tak pernah tergesa. Titel pemeran dalam portofolionya sejauh ini masih bisa dihitung jari. Jumlah film produksinya pun jarang melampaui satu judul setiap tahunnya. Ia memilih berjalan selektif. Kita bisa mengetahui keselektifan Lola Amaria dari menonton film-filmnya. Lewat Betina (2006), yang jadi debut penyutradaraannya, ia mengulik jarak tipis antara cinta dan nafsu dalam sosok perempuan. Lalu memaparkan jatuh-bangun kehidupan TKW dalam Minggu Pagi Di Victoria Park. Atlet nasional perempuan panjat tebing di Indonesia juga memiliki ceritanya sendiri melalui 6,9 Detik (2018). Ia bahkan pernah mendalangi distribusi film dokumenter Pesantren (2022), yang menyoroti kiprah ulama perempuan memimpin pesantren.

Di antara karyanya, tampak suatu kesamaan, yakni karakter perempuan selalu bersuara. “Saya bikin film dengan harapan bisa berkontribusi membawa perubahan paradigma masyarakat ke arah lebih baik. Buat saya, film layaknya sebuah upaya kecil yang pelan-pelan beresonansi. Dimulai dari sejumlah kecil penonton, lalu menjangkau skala lebih besar. Saya lebih percaya pada perubahan yang sifatnya organik,” kata perempuan yang pernah menempuh studi Humaniora dan Bisnis di Kaplan College New York itu.

Begitulah Lola Amaria. Di tangannya, sinema ditempatkan selaku reflektor kehidupan. Terkadang cerita-cerita pilihannya bukan sesuatu yang selalu nyaman ditonton. Imbasnya pun jelas: karyanya menantang untuk dipasarkan.“Karya saya bukan selera milik semua orang. Tapi saya yakin ada penikmatnya,” ujarnya penuh kesadaran. Perspektifnya berorientasi. “Berkarya bukan sekadar soal pendapatan, sejatinya materi selalu bisa dicari,” katanya menghela gelak ringan sebelum menutup perbincangan, “Tapi kesempatan menjadi bagian dari sesuatu yang substansial barangkali hanya datang sesekali. Jadi, pertimbangan saya selalu dilandasi oleh niat yang paling sederhana itu. Dari sana, sering kali, lahir sesuatu yang besar. Selebihnya, saya cukup berkeyakinan.”