17 April 2026
Presentasi Koleksi Spring/Summer 2026 di Seoul Jembatani Pembukaan Butik COS Pertama di Indonesia
Text by Santi Zulbachri ; (photo DOC. COS)
Ada keistimewaan tersendiri saat sebuah brand tidak sekadar menggelar show—tapi justru menciptakan sebuah atmosfer. Seperti adegan film yang merangkul kita berada di dalamnya. Demikian yang terjadi saat COS kembali ke runway untuk koleksi Spring/Summer 2026 di Seoul.
Sesuai dengan koleksi musim semi/panas 2026 yang diberi judul Cinematic Beauty, perhelatan COS akhir Maret silam menggugah analisa lewat presentasi yang mampu menggubah atmosfernya sendiri. Alih-alih memilih venue yang polished atau konvensional, COS justri membawa tamunya ke pinggiran kota Seoul. Mengarahkan ke sebuah ruang brutalist yang keras, dingin, dan terbengkalai. Di dalam spasial lapang berpilar tersebut terdapat kolam-kolam kosong yang digubah menjadi lanskap arsitektural yang terasa ganjil, namun indah. Seperti set film arthouse yang dibiarkan mentah.
Setelah serangkaian show yang berpindah-pindah di berbagai kota Eropa dan empat kali tampil di New York Fashion Week tiap September, COS seolah menemukan panggung yang paling sesuai dengan narasinya: kota yang bergerak cepat, namun memiliki kepekaan visual yang tajam. Seoul, dengan lapisan budaya kontemporer dan arsitektur urban yang dinamis, menjadi latar yang lebih dari sekadar relevan. Dalam sebuah ruang brutalist di area Seongbuk-gu, COS merayakan minimalitasnya yang menggelegar.
Saat show dimulai, potongan kehidupan sehari-hari khas Seoul—seperti rekaman dari subway—mengalun. Ritmis, repetitif, dan familiar. Lalu musik membuai barisan model yang berderap melintasi platform panjang berseling kolam-kolam struktural dengan kabut tipis yang perlahan muncul dari dalam. Tidak ada gestur dramatis yang berlebihan; yang ada justru ketenangan yang terkontrol. Menjadikan momen ini sebuah pendekatan yang terasa sangat COS: understated namun penuh intensi.
|
|
Koleksi Cinematic Beauty ini terasa seperti dialog antara dua dekade, yaitu ’80-an dan ’90-an yang diterjemahkan tanpa nostalgia yang berisik. Tidak ada referensi yang terasa literal; semuanya disaring, dipadatkan, lalu dihadirkan kembali dalam bentuk yang lebih halus. Siluet menjadi titik fokus. Seperti bahu yang lebih tegas—menjadi bisikan dari power dressing khas era ’80-an yang bertemu dengan garis-garis minimal khas ’90-an.
Palet warnanya sendiri memperkuat narasi tersebut. Abu-abu slate, cokelat hangat, krem, dan putih membangun fondasi yang tenang, nyaris merupa seragam—namun bukan dalam arti membosankan. Justru di situlah kekuatannya. Sebuah konsistensi yang memberi ruang bagi detail untuk berbicara. Sesekali, biru dan merah oxblood muncul sebagai aksen, bagai jeda dalam sebuah kalimat panjang, memberi ritme dan kedalaman tanpa mengganggu harmoni.
Atensi tertumpu pada cara COS memperlakukan material. Ada perhatian yang hampir obsesif pada bagaimana kain jatuh, bergerak, material kulit yang dibuat crinkled, dan bagaimana garmen-garmen tersebut menangkap cahaya. Kulit dan fabrikasi teknis hadir dalam kilau yang sangat halus—tidak glossy, tapi cukup untuk menangkap mata. Permukaan yang menyerupai kertas, dengan tekstur berkerut, memberi dimensi taktil yang kontras dengan kelembutan linen melange. Lalu kemudian ada transparansi. Lapisan-lapisan tipis yang memperlihatkan tubuh dalam gerak, menyerupai bayangan yang puitis. Pada womenswear, pendekatan ini terasa paling jelas. Gaun-gaun dengan ribbed knits transparan membingkai tubuh tanpa mengikatnya, sementara tailoring khas COS dilembutkan lewat kain yang lebih cair dan draping yang terkontrol. Ada permainan ilusi yang menarik, seperti denim yang sebenarnya adalah sutra, sebuah trompe l’oeil yang membuat saya mempertanyakan sebenarnya apa yang sedang saya lihat. Sutra sendiri menjadi semacam bahasa universal dalam koleksi ini—dilipat dengan presisi, dibentuk menjadi gaun off-shoulder yang sculptural, hingga hadir sebagai kemeja yang terasa effortless namun tajam.
Sementara menswear menawarkan pendekatan yang lebih subtil. Siluet yang lebih ramping memberi kesan refined tanpa kehilangan kenyamanan. Referensi utilitarian muncul dalam detail-detail kecil, seperti kantong, jahitan, dan struktur yang terasa fungsional tapi tetap bersih secara visual. Ensambel tonal yang terinspirasi dari styling ’80-an terasa seperti seragam baru—modern, praktis, dan relevan. Kehadiran suede, terutama untuk musim yang lebih hangat, memberi sentuhan luks yang tenang. Menjadikannya sebentuk kemewahan yang tidak perlu diperlihatkan secara eksplisit.
|
|
Aksesori menjadi penutup tepat untuk keseluruhan narasi presentasi ini. Tidak ada yang terasa berlebihan, tapi semuanya memiliki peran. Material kulit plimsolls yang lembut, mules dengan heel yang nyaris seperti objek arsitektur, hingga tas dengan material yang saling melengkapi. Seluruhnya memperkuat ide bahwa gaya tidak harus kompleks untuk terasa kuat.
Alihkan sejenak pandangan dari derap langkah di runway ke wajah-wajah yang memberi karakter kuat di balik pilar-pilar brutalist tersebut. Barisan figur familiar dari berbagai belahan dunia meramaikan barisan tamu yang hadir, mulai dari Alexander Skarsgård, Emma Roberts, Park Gyuyoung, Seungkwan dari Seventeen, Lee Dong Wok, Ella dari Meovv, hingga Haesun Shin.
Satu lagi yang istimewa dari presentasi COS kali ini. Rumah mode asal London ini mempersilahkan sebagian koleksi untuk langsung masuk dan tersedia baik di butik maupun secara daring. Menjadikannya sebuah pendekatan yang semakin relevan di era sekarang, ketika jarak antara runway dan real life semakin tipis—tanpa adanya penantian. Terutama saat butik COS pertama di Indonesia membuka pintunya di 17 April 2026 ini. Berlokasi di Plaza Indonesia, momentum musim semi ini seolah memutus jarak antara konsumen dan brand yang dapat menelisik barisan koleksi musim semi/panas 2026 secara langsung.
COS sendiri merupakan fashion brand yang menjadi besar lewat jalur yang lebih sunyi dan menghadirkan keindahan yang perlahan. Nama ini bergerak kian kuat di genggaman nahkoda Karin Gustafsson. Sang Design Director yang telah berkiprah bersama COS selama dua dekade tersebut meluangkan waktunya sejenak untuk berbincang bersama ELLE.

Setelah mengadakan show di sejumlah kota besar di Eropa serta empat show di New York Fashion Week, mengapa kini Anda memilih Seoul sebagai lokasi presentasi koleksi musim semi/panas 2026?
“Seoul adalah kota yang luar biasa. Semuanya terasa tepat—mulai dari venue, hingga koleksi yang akan kami presentasikan. Kota ini memiliki kekayaan budaya dan warisan yang kuat, sekaligus modernitas yang terasa selaras dengan COS.
Apa ide atau emosi yang ingin Anda sampaikan kepada audiens lewat koleksi musim semi/panas 2026 ini?
“Nama koleksi ini adalah Cinematic Beauty, dan judul ini mewakili perasaan yang ingin kami capai. Kami mengejar karakter yang kuat, tapi juga bentuk keanggunan yang effortless.”
Bagaimana COS membentuk progres di tahun 2026? Apakah lebih didorong oleh desain, inovasi material, atau dialog budaya?
“COS selalu berangkat dari desain. Tapi semuanya selalu dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan sekitar. Yang pasti, kami akan terus meningkatkan kualitas, baik dalam bahasa desain maupun kualitas fisik produk. Dan tentunya tetap konsisten pada keyakinan kami terhadap desain yang refined dan thoughtfully considered.”
|
|
Bagaimana cara Anda bereksperimen dengan material atau garmen? Seperti yang dapat dilihat di koleksi ini di mana Anda membuat material kulit terlihat crinkled, atau mendapat sentuhan permainan drapery—yang mana drapery selalu menjadi signature desain Anda bukan?
“Ya, benar. Saya rasa semuanya dimulai dari sudut pandang yang jelas tentang siapa kami [COS]. Lalu setiap musim dimulai dari halaman kosong, dan kami menggunakan berbagai metode untuk mencapai hasil akhir. Variasi dalam draping, tailoring, dan berbagai teknik craftmanships menjadi faktor-faktor yang luar biasa penting. Karena prosesnya sendiri sangat menentukan hasil akhirnya.”
Alexander Skarsgård.
Desain Anda senantiasa terlihat effortless, tapi sebenarnya memiliki fondasi teknis yang kuat. Bisa jelaskan tentang kompleksitas tersembunyi di balik garmen COS yang tampak sederhana?
“Menurut saya pribadi, semuanya sering dimulai dari bagian bahu. Baik itu melalui draping atau konstruksi—seperti yang saya pakai saat ini, kaus dengan shoulder pad. Garis bahu menjadi elemen penting dalam desain saya. Itu menjadi titik keputusan utama: posisi bahu seperti apa yang kali ini kami inginkan? Apakah berupa drop shoulder, tegas, atau mungkin lebih masuk ke dalam? Aspek ini sangat menentukan dalam menentukan teknis dan proses desain selanjutnya.”
|
|
Anda telah bersama COS selama dua dekade. Bagaimana Anda menggambarkan visi COS saat ini? Apakah perlahan berubah mengikuti lanskap fashion global?
“Secara alami, tentu selalu ada evolusi. Tapi kami tetap setia pada identitas sejak awal. Bahasa desain kami berakar pada pertimbangan yang matang di setiap aspek: perasaan, tampilan produk, hingga pemilihan material. Semuanya refined. Kami selalu percaya bahwa ‘less is more’—lebih banyak tidak selalu berarti lebih baik, bahkan sering kali justru menurunkan kualitas. Namun kami juga ingin tetap relevan dengan momentum saat ini.”
Industri fashion bergerak sangat cepat. Bagaimana cara Anda menjaga integritas proses desain COS?
“Dengan tetap jujur pada diri kami sendiri dan tidak terlalu mudah terpengaruh. Tapi di saat yang sama, kami tetap terbuka pada hal-hal baru yang menarik dan memberi inspirasi. Jadi ini bagaikan dialog internal yang terus berjalan.”
Emma Emma Roberts.
Jika Anda bisa menjelaskan tentang sosok perempuan COS, bagaimana Anda menggambarkan profilnya?
“Perempuan dengan pola pikir urban. Tidak harus tinggal di kota besar, tapi ia memiliki kesadaran budaya, dan tertarik pada seni dan desain. Ia juga berpengetahuan luas dan menjalani hari-hari yang sibuk. Bagi kami, penting untuk memikirkan sosok ini—bagaimana koleksi kami bisa melengkapi hidupnya, berjalan berdampingan dengan langkahnya, mempermudah kesehariannya, dan memberdayakannya dengan gaya yang effortless dan praktis.”







Alexander Skarsgård.

Emma Emma Roberts.