FASHION

8 Maret 2026

Jasmin Larian Hekmat Tak Pertimbangkan Viralitas dalam Merancang Desain Cult Gaia


Jasmin Larian Hekmat Tak Pertimbangkan Viralitas dalam Merancang Desain Cult Gaia

photo DOC. Jasmin Larian Hekmat/Cult Gaia

Tiga belas tahun telah berlalu sejak Jasmin Larian Hekmat meluncurkan Cult Gaia, label mode yang identik dengan busana resor bermandikan sinar mentari, gaun-gaun panjang bak pakaian para dewi, hingga tas-tas yang dirancang bak sebuah karya seni pahatan. Kini, koleksi-koleksi Cult Gaia telah berkembang hingga mencakup jajaran gaun yang ideal dikenakan untuk destination wedding, sepatu bertumit arsitektural, perhiasan lengkap, dan lini wewangiannya sendiri, yang diluncurkan dua tahun silam. Pencapaian- pencapaian ini terbilang luar biasa mengingat lanskap ekonomi yang tengah melesu beberapa tahun ke belakang dan memaksa sejumlah label independen untuk gulung tikar.

Jasmin Larian Hekmat lahir dan dibesarkan di Los Angeles. Ayahnya, Isaac Larian, adalah seorang imigran dari Iran yang mendirikan perusahaan boneka Bratz—salah satu boneka Bratz bahkan terinspirasi oleh sosok Jasmin dan diberi nama Yasmin. Sementara itu, sang ibu, Angela Neman Larian, yang juga merupakan seorang imigran dari Iran, adalah seorang seniman patung. “Saya tumbuh di rumah di mana kreativitas adalah norma,” ujar Hekmat. “Ibu saya adalah seorang seniman dan pematung, jadi selalu ada bahan, sketsa, dan ide yang setengah jadi. Ayah saya membangun perusahaan mainan global dari nol, jadi saya mengamati bagaimana rasanya bermimpi besar dan mengambil risiko. Masa kecil saya tidak seperti masa kecil anak-anak pada umumnya, tetapi penuh dengan imajinasi dan kemungkinan. Saya tidak pernah mempertanyakan apakah kehidupan di dunia seni itu praktis karena saya melihat kedua orangtua saya menjadikan kreativitas sebagai karier mereka. Hal itu membentuk segalanya tentang saya.”

Melihat latar belakang keluarganya, tak mengherankan mendapati Hekmat turut berkeinginan untuk terjundan berkarier di industri mode. “Saya ingat betul betapa terpesonanya saya dengan cara ibu memandang keindahan dan bentuk,” kenangnya. “Saya akan mengenakan kain di tubuh saya dan memotong pakaian lama untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang baru. Rasanya seperti naluriah. Saya selalu tahu bahwa saya akan membangun dunia saya sendiri; hanya saja saya belum tahu seperti apa bentuknya nanti.” Tak hanya terinspirasi oleh sang ibu, Hekmat turut mengkredit sang ayah sebagai mentornya secara tidak langsung, tak hanya secara pribadi namun juga sebagai seorang pengusaha. “Bratz begitu bold, disruptif, dan sama sekali berbeda. Nilai-nilai itu melekat pada saya. Saya tumbuh besar menyaksikan sebuah merek mainan menantang status quo dan menciptakan jalurnya Jasmin Larian Hekmat. sendiri,” ungkapnya. “Ayah saya menunjukkan kepada saya bahwa kita tidak harus bermain sesuai aturan untuk membangun sesuatu yang bermakna. Hal itu memberi saya izin, sebagai seorang desainer, untuk memercayai insting dan mengikuti ide-ide meskipun terasa tidak konvensional. Cult Gaia dibangun dari tempat yang sama: ambil risiko, tetap setia pada sudut pandang Anda, dan pimpin dengan imajinasi.”


Hekmat kemudian memutuskan untuk mengenyam pendidikan mode di Fashion Institute of Technology (FIT), New York, yang kampusnya kebetulan beralamatkan tepat di sebelah Flower District. Di waktu luangnya, ia mulai membuat aksesori kepala berbentuk mahkota bunga yang biasa ia dan teman-temannya kenakan saat berkeliling kota; beberapa orang bahkan menghentikannya di jalan untuk bertanya apakah mereka dapat membelinya langsung dari kepala mereka. Seorang teman pun mendorong Hekmat untuk mengubah hobinya menjadi sebuah bisnis, dan ia pun melakukannya pada tahun 2011. Tak hanya merancang mahkota bunga—yang kemudian menjadi favorit banyak selebritas layaknya Paris Hilton dan Vanessa Hudgens, Hekmat turut memperluas lini produknya dari sekadar mahkota bunga hingga turut meliputi koleksi turban, yang dibuat menggunakan kain vintage yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun.

Pada tahun 2013, Hekmat memutuskan untuk menggeser poros bisnisnya dari aksesori kepala menjadi koleksi jinjingan. Meski tidak menyebut perubahan ini sebagai sebuah langkah strategis, ia mengkreditnya sebagai evolusi kreatifitasnya. “Saya selalu mengikuti rasa ingin tahu saya,” ujarnya. “Mahkota bunga dan turban di awal-awal perjalanan Cult Gaia adalah cara untuk bereksperimen dengan tekstur dan bentuk. Aksesori memberi saya kanvas yang berbeda. Perubahan haluan ini bukanlah strategis dalam arti tradisional; ini adalah evolusi kreativitas saya. Ketika sesuatu menginspirasi saya, saya mengikutinya.”

Ark Bag.

Hekmat kemudian meluncurkan salah satu kreasi jinjingan paling ikonisnya, Ark Bag, pada tahun 2013. Meski demikian, tas bambu bersiluet kipas tersebut tak langsung menuai kesuksesan. Sang desainer bahkan mengaku pernah memberikan tas tersebut ke banyak influencer secara cuma-cuma karena kesulitan menjual tas-tas tersebut. Tas tersebut baru menjadi favorit banyak selebritas—seperti Beyoncé—dan menyandang status ‘it bag’ tiga tahun kemudian di tahun 2016. “Beberapa ide membutuhkan waktu untuk dipahami,” jelas Jasmin. “Ark Bag awalnya tidak dipahami oleh semua orang. Saya bahkan membagikan sampel karena saya hanya ingin orang-orang melihatnya secara langsung. Ketika media sosial meledak, dampak visual tas tersebut akhirnya memiliki panggungnya. Saya belajar bahwa sangat penting untuk tetap berpegang pada visi Anda, bahkan ketika dunia belum sepenuhnya siap untuk itu.”

Kesuksesan tersebut mendorong Hekmat untuk meluncurkan koleksi ready-to-wear pertamanya di tahun 2017. Meski ekspansi ke lini busana siap pakai merupakan langkah yang begitu alamiah, keputusan tersebut diakui Hekmat menghadirkan tantangan dan kompleksitas tersendiri beginya. “Membangun koleksi pakaian membutuhkan infrastruktur yang sama sekali berbeda,” ungkap Hekmat. “Saya harus cepat belajar bagaimana mempertahankan DNA pahatan.


Cult Gaia sambil mendesain pakaian yang benar-benar bisa dikenakan para perempuan sehari-hari. Tantangan terbesarnya adalah skala: bagaimana tumbuh dengan bijaksana tanpa mengurangi nilai artistik yang mendefinisikan kami. Saya mengatasinya dengan mendasarkan semuanya pada niat. Jika desainnya tidak terasa istimewa, maka tidak akan dilanjutkan.”

Meski mengaku proses kreatifnya sedikit berbeda, Hekmat mengatakan bahwa akan selalu ada benang merah dalam tiap rancangannya—baik pada aksesori maupun busana siap pakai. “Proses saya selalu dimulai dengan bentuk,” ujarnya. “Saya tertarik pada siluet yang terasa sculptural seperti patung namun tetap terlihat effortless. Dengan aksesori, arsitekturnya lebih jelas terlihat. Melalui busana siap pakai, ini menjadi tentang gerakan dan bagaimana sehelai pakaian membingkai tubuh. Keduanya tentang menciptakan sesuatu yang berkesan, tetapi pakaian membutuhkan lapisan tambahan berupa kenyamanan emosional. Pakaian itu harus membuat Anda merasa nyaman saat memakainya.”


Tak butuh lama bagi Hekmat untuk terus melebarkan sayap bisnisnya. Ia pun memperkaya lini Cult Gaia dengan koleksi alas kaki di tahun 2018, pakaian renang di 2019, kacamata hitam di tahun 2021, dan tas malam bertabur rhinestone pada tahun 2022. Tak jarang, kreasi jinjingan, alas kaki, ataupun perhiasan rancangannya menjadi viral dan menyandang status ‘it’. Sebut saja kreasi Reina clutch yang terinspirasi dari sebuah patung dada pahatan Kelly Wearstler atau gaun Serita yang dikenakan Hailey Bieber dan mendominasi Instagram sepanjang musim panas 2020. Selain itu, ada pula sandal Cassidy, sepasang sandal bertumit tinggi yang terinspirasi dari saat Hekmat mengambil bunga calla lily dan melilitkan bunga itu di kakinya. Tak disangka, desainnya yang unik begitu beresonansi di hati banyak perempuan hingga tak sedikit yang menjadikan kreasi cantik ini sepatu pernikahan mereka.

Tak jarang berselipkan humor, tetapi selalu dirancang dengan indah, karya-karya Hekmat sering kali berasal dari sumber yang tak terduga. Misalnya saja, vas porselen pertengahan abad atau bahkan anggur yang diubah menjadi sebuah clutch. Namun itulah ciri khas karya-karya Hekmat, mereka dikenal out-of- the-box dan mampu menjadi conversation starters di mana pun seorang perempuan berada. Tentunya tidak mudah untuk menemukan formula penciptaan produk semacam itu. “Ini adalah perpaduan antara intuisi dan disiplin,” bebernya. “Saya melihat sebuah karya dan bertanya pada diri sendiri apakah karya itu memicu sesuatu. Saya juga menghabiskan banyak waktu dengan pelanggan saya. Saya mengamati bagaimana ia hidup, bepergian, dan bersosialisasi. Menciptakan produk- produk hebat berasal dari pemahaman mendalam tentang dunianya, tetapi tidak pernah meremehkan selera seninya. Para perempuan ingin merasakan sesuatu.”


Meski karya-karyanya begitu digandrungi dan kerap menjadi viral, Hekmat mengaku mengejar viralitas tidak menjadi pertimbangannya kala merancang sebuah produk. Nyatanya, visi dan fokus utamanya adalah menciptakan sebuah ekosistem di mana Cult Gaia tak hanya dikenal sebagai sebuah label mode namun sebagai label gaya hidup yang koheren. “Bagi saya, ini tentang membangun sebuah dunia,” ungkapnya. “Beberapa karya secara alami menarik perhatian dan memicu percakapan, dan yang lainnya diam-diam menjadi tulang punggung Cult Gaia. Keduanya penting. Karya-karya yang lebih ekspresif membuat Cult Gaia tetap relevan secara budaya, dan karya-karya yang bergaris rancang abadi membuat komunitas kami terus kembali. Saat mendesain, saya selalu memikirkan bagaimana cara menyeimbangkan keduanya.”

Sebaliknya, ketika produk-produknya mendapatkan begitu banyak perhatian, menjadi viral, lalu ditinggalkan, Hekmat mengaku tak terlalu terpengaruh olehnya. “Sejujurnya, saya tidak terlalu terpaku pada apa yang sedang tren dan apa yang tidak,” ujarnya. “Tujuannya bukanlah untuk mengejar momen sesaat. Saya peduli dengan menciptakan karya yang akan tetap dipakai orang, karya yang terasa dipikirkan matang-matang dan mempertahankan daya tariknya lama setelah popularitas awalnya mereda. Saya memasuki setiap proses desain dengan pola pikir untuk menciptakan karya yang akan tetap ada di lemari Anda selamanya. Jika sesuatu mendapat perhatian sesaat dan kemudian menghilang, itu hanyalah bagian dari siklus mode. Tetapi karya yang paling saya banggakan adalah karya yang orang-orang beri tahu saya bahwa mereka telah memakainya selama bertahun-tahun. Ketahanan itu lebih berarti bagi saya daripada tren cepat apa pun.”


Tiga belas tahun telah berlalu sejak Hekmat mendirikan Cult Gaia. Perlahan namun pasti, ia terus memperkaya portofolio bisnisnya dengan berbagai proyek ekspansi, seperti meluncurkan lini wewangiannya sendiri di tahun 2024. Botolnya yang cantik berbentuk lengkung dengan tutup marmer menandai kiprah pertama sang desainer di luar dunia mode, dan ia tidak pernah berkompromi menyoal detail—mulai dari menyertakan bingkai emas, hingga bersikeras agar logonya terbuat dari logam dan bukan disikat atau dicap.

“Saat ini, saya paling bersemangat untuk mengembangkan Cult Gaia dengan cara yang sesuai dengan label tersebut,” ungkapnya. “Peluncuran wewangian kami merupakan langkah yang sangat berarti, dan tahun depan akan membawa beberapa eksplorasi indah ke dalam kategori baru dan cara-cara baru untuk melibatkan komunitas kami dalam dunia Gaia.”

Dengan 10 butik yang tersebar di seluruh dunia termasuk di New York, Las Vegas, Melrose, Miami, Mykonos, dan St. Tropez, Hekmat juga ingin memastikan bahwa ekspansi bisnisnya selalu dilakukan dengan penuh pertimbangan tanpa mengorbankan kualitas produk-produknya. “Butik-butik kami adalah perpanjangan dari dunia Cult Gaia, bukan hanya tempat penjualan,” tegasnya. “Pertumbuhan hanya akan berhasil jika produk tetap luar biasa. Meningkatkan skala dengan bijak lebih penting bagi saya daripada meningkatkan skala dengan cepat.”



Berbicara menyoal kesuksesan, Hekmat memiliki pandangannya sendiri, yang tentunya jauh dari popularitas dan viralitas. “Kesuksesan adalah menciptakan karya yang melampaui momen tertentu,” ujarnya. “Ini tentang membangun merek yang terasa personal dan artistik, tetapi juga membangun kehidupan di mana saya memiliki ruang untuk keluarga, kreativitas, dan hal-hal yang menenangkan saya. Keseimbangan adalah bagian dari kesuksesan.”

Lantas, bagaimana seorang Jasmin Larian Hekmat ingin dikenang? “Saya ingin dikenal sebagai seseorang yang menciptakan keindahan yang membuat para perempuan merasakan sesuatu. Seseorang yang mempercayai instingnya, mengikuti rasa ingin tahunya, dan membangun dunia di mana desain dan seni dapat berdampingan dengan cara yang terasa otentik, emosional, dan abadi,” tutupnya.