24 Juli 2026
Garis Rancang Kebaya Kontemporer Gubahan Desainer Tanah Air
Text by Varisha Wira
Ada momen ketika sehelai busana yang dulu akrab tersimpan di lemari nenek kini kembali menemukan panggungnya. Kebaya, dengan bukaan depan yang khas dan siluet yang membalut lekuk tubuh perempuan Nusantara, telah menempuh perjalanan panjang dari ranah domestik menuju pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada Desember 2024; sebuah babak yang membuktikan bahwa identitas dapat terus hidup, beradaptasi, dan memancarkan pesona lintas generasi. Di tangan desainer Tanah Air, warisan ini terus digubah ulang, dipangkas menjadi vest, dipadu celana, ditafsir lewat wastra daerah, hingga naik ke panggung internasional tanpa kehilangan akar budayanya. Berikut deretan desainer Indonesia dan gubahan kebaya kontemporer mereka yang layak jadi inspirasi merayakan kecintaan pada busana nasional ini.
1. Wilsen Willim
|
|
Wilsen Willim dikenal piawai mengolah wastra Nusantara dengan potongan kontemporer, sebagaimana tergambar dalam koleksi Kartini yang ia luncurkan di tahun 2026 ini. Siluet kebaya kutubaru tampil makin modern lewat tepian scallop dalam balutan serba putih. Kemeja berkerah kebaya serta siluet yang terinspirasi dari origami kincir angin ikut menghiasi koleksi yang terdiri dari 15 tampilan ini, membuktikan bahwa unsur tradisional dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan gaya urban masa kini.
2. Toton
|
|
Baru dua pekan lalu, Toton Januar kembali menyapa panggung mode lewat koleksi Kala yang menutup rangkaian Mulia in Fashion 2026 di Ballroom Hotel Mulia Senayan pada 10 Juli lalu. Terinspirasi sosok mitologis Jawa-Bali, Batara Kala, sebanyak 48 tampilan menerjemahkan kegelisahannya terhadap dunia yang kini sulit diprediksi. Kekayaan busana tradisional Indonesia seperti kebaya, baju bodo, hingga busana adat Bali dan praktik berkain diadaptasi dalam gaya kontemporer tanpa menutupi siluet aslinya, berpadu dengan elemen setelan safari yang lebih terstruktur dan fungsional.
3. Sejauh Mata Memandang
|
|
Dalam nuansa yang berani dan sarat nilai artistik, Sejauh Mata Memandang menghadirkan koleksi spesial kebaya merah yang berkolaborasi dengan seniman Eko Nugroho. Kebaya ini diperkaya melalui bordir detail bermotif alien, ayam, dan bunga khas yang memadukan keunikan seni kontemporer dengan busana tradisi. Siluetnya hadir adaptif, baik sebagai kebaya luaran maupun potongan kontemporer sehingga mudah dipadukan dengan rok lilit atau denim untuk tampilan yang lebih ekspresif. Tak hanya itu, label ini turut menghadirkan Anjali, kebaya bertali depan yang dapat disesuaikan untuk menonjolkan lekuk pinggang. Dibalut kain katun broderie putih dengan sentuhan renda serta lengan panjang berhias ruffle, menghadirkan versi kebaya klasik yang lebih personal dan ringan untuk pemakaian sehari-hari.
4. Sukkha Citta
|
|
Sukkha Citta, gerakan sosial yang didirikan Denica Riadini-Flesch pada 2016, memperbarui koleksi ikonisnya lewat PERTIWI: The Red Thread yang diluncurkan Februari silam di Plaza Indonesia. Di bawah arahan kreatif Anastasia Setiobudi, Pertiwi Kebaya kini hadir dalam satu warna, nature white, dengan motif yang diadaptasi dari kerajinan lurik khas Jawa, sementara Pertiwi Long Kebaya menghadirkan versi gaun yang lebih elegan dan mengalir. Setiap helai tetap ditenun dari serat tanaman dan diwarnai secara alami oleh perajin perempuan di lima desa dampingan Sukkha Citta, menjadikan kebaya bukan sekadar busana, melainkan bentuk regenerasi warisan.
5. Kraton by Auguste Soesastro
|
|
Untuk keempat kalinya tampil di Dewi Fashion Knights, Auguste Soesastro membawa label Kraton mengangkat tema Sumatra yang terinspirasi dari kejayaan pelabuhan dagang kuno, menjadi titik temu berbagai budaya dunia dan cikal bakal keberagaman etnis Indonesia. Jacquard India, brokat Jepang, songket, serta batik Jambi dan Jawa dipadupadankan dalam satu rancangan, menghasilkan siluet arsitektural khas Kraton yang ready-to-wear namun tetap sarat wastra.
6. Tangan Privé
|
|
Tangan Privé menafsirkan ulang kebaya menjadi gubahan kontemporer yang terstruktur, presisi, dan kaya detail melalui koleksinya di tahun 2026. Karakter ini terwujud kuat pada kreasi Intricate Sheer Kebaya yang dirancang transparan dan mengadopsi siluet yang terinspirasi dari budaya Peranakan. Berbahan tulle dan mikado silk, yang memadukan korset dalam yang menyatu terstruktur dengan panel belakang terbuka sehingga menciptakan ilusi melayang, kebaya ini dihiasi payet rumit di sepanjang garis leher, tepi transparan, dan kelim. Eksplorasi siluet kontemporer tersebut kian dipertegas lewat High-Curved Collar Kebaya, kebaya pas badan berbahan mikado dengan kerah tinggi melengkung yang khas, bukaan kancing tersembunyi dengan belahan di bagian depan tengah, serta taburan bordir floral dan payet di sekujur busana.
7. Sapto Djojokartiko
|
|
Kebaya janggan rancangan Sapto Djojokartiko kembali mencuri sorotan dunia saat dikenakan sutradara Kamila Andini di Festival Film Cannes, Mei lalu, dalam rangka program Women in Cinema Spotlight Red Sea Film Foundation. Kebaya tersebut dipadukan rok panel berhias payet penuh untuk menonjolkan kualitas savoir-faire rumah mode ini. Detail belahan rok memberi kesan elegan, feminin, dan sophisticated, sekaligus memperkuat identitas desain yang sangat khas Sapto Djojokartiko di panggung internasional. Semangat serupa terpancar saat Maudy Ayunda tampil di Festival Film Indonesia 2025, mengenakan kebaya kuning keemasan rancangan Sapto Djojokartiko dengan garis bahu rendah dan punggung terbuka yang berkilau oleh sapuan payet dan embellishment halus. Dipadukan kain batik hijau bermotif buketan, tampilan ini kembali menegaskan kepiawaian sang desainer meramu kemewahan klasik ke dalam siluet yang tetap terasa personal.
8. Oscar Lawalata Culture
|
|
Digawangi Asha Smara Darra, label Oscar Lawalata Culture selama lebih dari dua dekade konsisten menjadikan kebaya dan kain Nusantara sebagai jiwa dari setiap koleksinya. Lewat teknik patchwork dan olahan kain sutra maupun tenun pilihan, Asha menghadirkan kebaya bersiluet longgar sebagai bukti bahwa keanggunan tidak selalu soal potongan yang pas di badan, menegaskan bahwa filosofi kebaya dapat terus tumbuh tanpa kehilangan jiwa tradisinya.
9. BIN House
|
|
Didirikan oleh pakar tekstil Josephine Werdiningsih Komara yang akrab disapa Obin, BIN House kembali memukau penikmat mode pada Jakarta Fashion Week 2026 lalu dengan koleksi Bahasa Kain, membawa kebaya dan wastra dalam ritme luwes serta warna-warni bold. Puluhan tahun mengangkat keindahan tenun dan batik Nusantara membuat label legendaris ini tak pernah kehabisan cara menerjemahkan kebaya modern berbahan sutra terbaik yang ringan, nyaman, dan tetap relevan untuk pemakaian sehari-hari generasi masa kini.
10. ANW
|
|
Digagas Astrid Nadia Wiradinata bersama Ilaine Prasetyo, ANW dikenal lewat kain menyerupai gauze dan bordir tangan yang terinspirasi dari teknik kirigami asal Jepang. Kebaya encim menjadi salah satu siluet favorit label ini, dihadirkan dalam potongan longgar dan tembus pandang yang ringan menyentuh tubuh. Dalam koleksi kapsul kolaborasinya bersama Pillar awal tahun ini, ANW mengolah kebaya menjadi atasan modern berlapis bordir tipis yang terinspirasi saputangan Peranakan vintage, membuktikan teknik shirring ikonis mereka mampu menjembatani estetika tradisional dengan sentuhan kontemporer yang playful.
11. Biyan
|
|
Digawangi Biyan Wanaatmadja sejak 1984, label Biyan telah lebih dari tiga dekade konsisten menghadirkan kebaya bergaya etnik-luxury yang memadukan kemewahan klasik dengan sensibilitas modern. Lewat sulaman tangan yang rumit, motif flora-fauna, serta detail manik dan kristal, Biyan menggubah kebaya dalam siluet longgar dan berlapis yang tetap terasa feminin, terinspirasi oleh kemegahan warisan kerajaan dan kekayaan budaya Nusantara.
12. AKSU
|
|
AKSU, singkatan dari Akar Suara, hadir sebagai label independen yang mengangkat kekayaan budaya suku-suku Nusantara lewat simbolisme yang subtil, termuat dalam siluet, palet warna, hingga detail finishing setiap busananya. Semangat ini paling kentara dalam kapsul Sahakari Vol. II, kelanjutan penjelajahan AKSU atas warisan budaya Nusantara, mulai dari suku Buton, Betawi, Aneuk Jamee, hingga Baduy. Jeumpa, yang terinspirasi bunga khas masyarakat Aneuk Jamee di Aceh, tampil dalam siluet kebaya longgar berbahan organdy bersulam, dilengkapi obi berlipit yang membingkai pinggang secara lembut. Sementara itu, Kaoma mengangkat kisah Kaomu, kelas bangsawan masyarakat Buton, lewat kebaya berkerah tinggi berhias pita, bahu sedikit mengembang, serta permainan variasi kancing yang memberi kesan anggun sekaligus kontemporer.
Photo via Instagram/wilsenwillimofficial
Photo via Instagram/wilsenwillimofficial
Photo via Toton
Photo via Toton
Photo via sejauh.com
Photo via sejauh.com
Photo via sukkhacitta.com
Photo via sukkhacitta.com
Photo via augustesoesastro.com
Photo via augustesoesastro.com
Photo via Instagram/tangan.prive
Photo via Instagram/tangan.prive
Photo via Instagram/saptodjojokartiko
Photo via Instagram/saptodjojokartiko
Photo via Instagram/oscarlawalataculture
Photo via Instagram/oscarlawalataculture
Photo via jakartafashionweek.co.id
Photo via jakartafashionweek.co.id
Photo via Instagram/___anw
Photo via Instagram/___anw
Photo via Instagram/biyanofficial
Photo via Instagram/biyanofficial
Photo via aksu.site
Photo via aksu.site