FASHION

8 Oktober 2026

Chanel Spring Summer 2027, Ode untuk Perempuan yang Bebas


PHOTOGRAPHY BY CHANEL

Chanel Spring Summer 2027, Ode untuk Perempuan yang Bebas

Di bawah kubah kaca Grand Palais yang menjulang di Paris, puluhan burung putih tampak menggantung di udara. Bukan burung sungguhan, melainkan instalasi yang membuat ruang pertunjukan seolah berada di antara langit dan bumi. Sebanyak 95 burung menjadi bagian dari lanskap surealis yang mengiringi runway Chanel Spring/Summer 2027, sekaligus menjadi metafora bagi salah satu gagasan utama koleksi Matthieu Blazy: freedom of movement—kebebasan untuk bergerak, berubah, dan melepaskan diri dari batas-batas yang pernah membentuk kita.

Bagi Blazy, perempuan tidak pernah berhenti menjadi dirinya sendiri dalam satu bentuk. Ia berevolusi. Sepanjang hidup, ia dapat menjadi banyak versi dari dirinya—mencoba identitas, meninggalkan sebagian, membawa sebagian yang lain, lalu menemukan kembali sesuatu yang pernah ia miliki. Seperti burung yang tidak diciptakan untuk tinggal diam di satu tempat, perempuan pun terus bergerak menuju bentuk dirinya yang berikutnya.


Pada 5 Oktober 2026, Chanel mempersembahkan 83 look di Grand Palais. Setahun setelah dipercaya memimpin arah artistik Chanel, Blazy melanjutkan percakapannya dengan Gabrielle Chanel melalui koleksi bertajuk La Conversation – Part Three – Different Faces of the Same Coin. Kali ini, yang menjadi pusat perhatian bukan semata-mata kode Chanel, melainkan perempuan di baliknya: Gabrielle.

“Throughout their lives, women become multiple selves, different faces of the same coin,” ujar Blazy dalam catatan koleksi. Baginya, seorang perempuan tidak pernah hanya memiliki satu identitas. Gabrielle Chanel adalah salah satu contohnya. Ia pernah menjadi gadis muda yang mengenakan korset Edwardian, perempuan yang meminjam pakaian laki-laki, pencipta jersey yang membebaskan tubuh, hingga perancang setelan yang kelak menjadi salah satu simbol Chanel.

Koleksi ini mengikuti perjalanan tersebut—dari Gabrielle muda hingga sosok Chanel yang kelak dikenal dunia. Alih-alih membuat perjalanan sejarah secara linear, Blazy memperlakukannya seperti lapisan yang terus bertumpuk. Masa lalu muncul kembali dalam bentuk baru; sesuatu yang pernah ditolak dapat kembali sebagai sesuatu yang justru membebaskan.


Pertunjukan dimulai dengan Dyanira Hurbuscher mengenakan gaun tipis berwarna putih, menyerupai lingerie, dengan detail corset dan camellia di bagian dada. Di tangannya terdapat sesuatu yang jauh lebih bersejarah: 2.55 milik Gabrielle Chanel sendiri, berasal dari arsip Patrimoine Chanel.


Model yang sama akan kembali menutup pertunjukan dengan tas tersebut, menciptakan lingkaran sempurna antara awal dan akhir. Pilihan itu bukan sekadar penghormatan terhadap ikon, tapi juga menegaskan gagasan utama koleksi: waktu tidak berjalan lurus. Masa lalu dapat kembali muncul dalam bentuk baru, sementara sesuatu yang tampak modern sebenarnya menyimpan jejak masa sebelumnya.


Dari lingerie, Blazy menelusuri berbagai fase gaya Gabrielle. Konstruksi Edwardian yang pernah membatasi tubuh diterjemahkan kembali melalui bayangan boning, peplum, ruffle dan lekuk bodice serta garis-garis konstruksi tubuh. Detail-detail tersebut tidak dihadirkan sebagai kostum sejarah, melainkan sebagai fragmen yang menjadi semacam jejak samar dari pakaian yang pernah ada. Tailoring laki-laki pun masuk ke dalam dunia perempuan. Jas formal dan eveningwear laki-laki hadir dengan tepian mentah, berubah menjadi gilet, trousers, atau pencil-skirt suit.

Di sinilah salah satu gagasan paling menarik koleksi ini bekerja: maskulinitas dan feminitas tidak ditempatkan sebagai dua kutub yang berlawanan. Keduanya bisa berpindah, bertukar, bahkan hidup bersamaan di tubuh yang sama.


Pakaian malam kemudian menjadi lebih ringan. Gaun bergaya 1930-an hadir dalam sequins dan potongan bias, sementara gaun rajut berhiaskan manik-manik terasa begitu ringan seperti T-shirt. Ada tutu yang mengingatkan pada dunia balet, tailoring yang dipakai langsung di atas kulit, mini skirt berlipit, serta kombinasi motif dan warna yang jauh dari citra Chanel yang konservatif.


Tweed bermotif harimau merah-putih, skirt suit transparan dengan bordir dan beadwork, serta berbagai siluet yang memberi ruang lebih besar bagi tubuh untuk bergerak memperluas bahasa visual koleksi.


Di antara berbagai wajah perempuan yang dibayangkan Blazy di runway, salah satunya datang dari Indonesia. Mirelle Aurellia mencatat debutnya di runway Chanel Spring/Summer 2027 di Grand Palais. Model asal Indonesia tersebut tampil dalam look 24, sebuah setelan tweed dengan motif zig-zag menyerupai zebra, aksen payet merah dan trimming hitam.

Cropped jacket tersebut dipadukan dengan rok berpotongan hipster, belt kulit kecil bernuansa emas, tas bernuansa cokelat-marun, serta heels senada. Kehadiran Mirelle terasa menyatu dengan gagasan koleksi. Motif animal yang berani ditempatkan di atas tweed—salah satu bahasa visual Chanel yang paling mudah dikenali—sehingga sesuatu yang familiar mendapatkan energi baru.


Eksperimen terhadap material menjadi salah satu bagian terpenting koleksi ini. Tweed—salah satu identitas paling kuat Chanel—dibuat seolah kehilangan beratnya. Pada bagian akhir koleksi, Blazy memperkenalkan smocked tweed, tweed yang dibuat lentur sehingga dapat meregang mengikuti tubuh. Material ini dikembangkan selama satu tahun, sebuah proses yang menunjukkan bagaimana Blazy tidak sekadar mengutip kembali bahasa klasik Chanel, tetapi mencari kemungkinan baru di dalamnya.

Secara visual, smocked tweed tetap membawa bahasa setelan Chanel; secara fisik, ia jauh lebih fleksibel. Ia mempertahankan bentuk yang dikenal, sambil mengubah cara tubuh mengalaminya. Di sini, gagasan freedom of movement menemukan bentuk paling konkretnya: kebebasan bukan lagi sekadar simbol yang terlihat di runway, melainkan sesuatu yang terasa ketika pakaian bergerak bersama tubuh.


Gagasan tentang gerak itu muncul lagi dalam rangkaian gaun flou yang dibuat dari lapisan sutra transparan dengan bobot berbeda. Kain-kain tersebut membentuk volume seperti awan yang berubah dari pagi, golden hour, hingga malam. Tubuh seolah berjalan melewati perubahan waktu. Di atasnya, burung-burung yang memenuhi Grand Palais menjadi metafora yang lebih langsung: Chanel sebagai sesuatu yang akhirnya melepaskan diri dari batasannya sendiri.


Bahkan soundtrack ikut membangun narasi tersebut. Suara Nicole Kidman membacakan potongan karya Virginia Woolf, Orlando dan To the Lighthouse, sementara musik bergerak dari Tchaikovsky dan Saint-Saëns menuju Lesley Gore, a-ha, hingga Britney Spears. Kontras tersebut terasa sengaja: masa lalu dan masa kini tidak sedang dipertentangkan, tetapi dibiarkan berdialog.

Dan kemudian, setelah seluruh perjalanan itu, datanglah kembali setelan Chanel. Hurbuscher muncul membawa 2.55 yang sama. Kali ini, tubuhnya dibalut versi baru tweed yang lebih lentur dan ringan. Jika look pertama berbicara tentang lingerie sebagai titik awal perjalanan Gabrielle, look terakhir berbicara tentang suit sebagai hasil dari perjalanan panjang tersebut. Sebuah lingkaran pun tertutup. “Ultimately, Chanel took off,” ujar Blazy, “and each step she took led to her being free, like a bird.”


Pada akhirnya, koleksi ini bukan tentang bagaimana mengulang masa lalu Chanel, melainkan bagaimana memahami mengapa Gabrielle Chanel terus-menerus mengubah dirinya sendiri. Ia tidak menciptakan satu identitas perempuan; ia membuka kemungkinan bagi banyak identitas. Bagi Blazy, kebebasan Chanel bukan hanya sesuatu yang dikenakan. Ia adalah sesuatu yang harus bisa dirasakan tubuh: dalam pakaian yang ringan, material yang lentur, siluet yang bergerak, dan ruang untuk menjadi siapa pun yang kita inginkan.

Seperti seorang perempuan, Chanel tidak pernah benar-benar menjadi satu versi dirinya. Ia terus bergerak dan berubah. Namun dalam setiap perubahan itu, kita masih mengenali dirinya.