10 Mei 2026
CHANEL Cruise 2026/27: Koleksi yang Membawa Chanel Kembali ke Biarritz
PHOTOGRAPHY BY CHANEL
Di Biarritz, laut tidak hanya menjadi lanskap. Ia menjadi cara berpikir. Angin Atlantik yang asin, garis pantai Basque yang keras namun melankolis, dan ritme hidup yang bergerak di luar formalitas salon Paris pernah memberi Gabrielle Chanel sesuatu yang jauh lebih besar daripada inspirasi visual: sebuah gagasan baru tentang kebebasan. Di kota inilah, pada 1915, Chanel mendirikan maison couture pertamanya—sebuah ruang yang kelak menjadi cikal bakal 31 Rue Cambon—dan dari sini pula lahir bahasa berpakaian yang mengubah abad ke-20.
Lebih dari seabad kemudian, rumah mode itu kembali ke tempat semuanya dimulai. Biarritz bukan sekadar backdrop cantik. Kota pesisir di Basque Country itu adalah salah satu tempat paling penting dalam sejarah Chanel. Di sana Chanel mulai membentuk ide tentang luxury yang santai; jersey, nautical spirit, pakaian yang memungkinkan perempuan bergerak bebas. Untuk debut koleksi Cruise pertamanya bagi CHANEL, Matthieu Blazy memilih Biarritz bukan sekadar karena keindahannya yang sinematik, melainkan karena kota ini menyimpan fondasi ideologis rumah mode tersebut: pakaian sebagai alat untuk bergerak, hidup, dan bernapas lebih bebas.

Di tangan Blazy, Cruise 2026/27 terasa seperti upaya mengembalikan Chanel kepada denyut tubuh dan dunia luar. Setelah era Virginie Viard yang cenderung tenang, praktis, dan hati-hati, koleksi ini hadir dengan sesuatu yang lebih emosional, lebih taktil, dan lebih sadar pada sejarah rumah mode itu sendiri. Bukan revolusi yang gaduh, melainkan reposisi atmosferik yang perlahan namun terasa signifikan—sebuah soft reboot yang mengubah bukan hanya rupa pakaian, tetapi juga cara Chanel ingin dirasakan kembali.

Show dibuka dengan sebuah pernyataan yang nyaris manifestatif: reproduksi gaun hitam Chanel tahun 1926. Matthieu Blazy kembali pada sketsa arsip asli yang selama puluhan tahun tersembunyi di balik reproduksi populer. Dalam interpretasinya kali ini, pita besar yang selama ini diasosiasikan dengan gaun tersebut dihilangkan dari bagian belakang dan diubah menjadi tas genggam. Keputusan kecil itu terasa simbolis. Blazy tidak sedang memuseumkan Chanel; ia sedang membongkar ulang memorinya.

Gaun hitam itu muncul nyaris tanpa dramatik berlebihan. Tepat, ramping, dan sunyi. Seperti ketika Vogue pada 1926 menyebut little black dress Chanel sebagai “Ford”-nya dunia mode—sederhana, massal, modern—Blazy mengingatkan kembali bahwa revolusi terbesar Chanel sejak awal lahir dari keberanian untuk menyederhanakan. Bahwa kemewahan hadir lewat ketepatan garis, kejernihan siluet, dan kesederhanaan yang terasa percaya diri.
Dari sana, koleksi bergerak seperti ombak yang terus berubah ritme. Ada garis-garis Basque yang muncul pada rajutan sailor, scarf sutra yang berkibar seperti layar kapal, hingga rok rafia yang berdesir mengikuti langkah model. Tweed biru pucat, silver, dan seafoam green menjadi salah satu highlight paling menonjol dalam koleksi ini. Pilihan warna yang mengingatkan pada permukaan laut Atlantik itu terasa penting karena tweed, selama lebih dari satu abad, adalah jantung Chanel sendiri.

Namun alih-alih mempertahankannya sebagai simbol kemapanan bourgeoise yang kaku, Matthieu Blazy membuat material tersebut terasa muda kembali—lebih ringan, lebih cair, dan nyaris memiliki napasnya sendiri. Dalam beberapa look, tweed dipadukan dengan striped sailor knits, scarf yang dililit santai di kepala, relaxed trousers, dan resort layering yang bergerak lembut mengikuti langkah tubuh.

Ada kualitas kinetik yang terus terasa sepanjang show. Saat para model berjalan, pakaian-pakaian itu seperti menangkap cahaya laut: berkilau samar, bergerak bersama angin, hidup dalam ritme yang tidak dibuat-buat. Dan mungkin justru di situlah kekuatan terbesar koleksi ini berada—pada kemampuannya membuat kemewahan terasa tidak diam. Workwear Prancis bertemu kemewahan resor; salon Paris menyelinap ke pantai Atlantik. Hierarki berpakaian dihapuskan. Seragam pelaut hadir berdampingan dengan gaun malam berpayet sisik ikan. Sebuah “bleu de travail” diterjemahkan menjadi tailoring lembut dengan siluet yang longgar dan sensual; sementara silk transparan, organza, dan rajutan berkilau menangkap cahaya seperti permukaan laut yang berubah warna sepanjang hari. Saat model berjalan, pakaian-pakaian itu tampak hidup—berkilau samar, bergerak bersama tubuh, dan sesekali seperti menghilang tertiup angin Atlantik.

Yang paling terasa dari koleksi ini bukanlah nostalgia, melainkan gerak. Hampir semua look tampak dibuat untuk tertiup angin. Tweed khas Chanel dibuat kehilangan kekakuannya menjadi lebih ringan, lebih sporty dan bergerak lebih alami mengikuti tubuh; silk tampak seperti menangkap cahaya matahari di permukaan laut; organza transparan bergerak nyaris seperti kabut asin di pantai pagi hari. Bahkan dalam look yang paling formal sekalipun, tubuh tidak pernah tampak terpenjara.
Sejak awal, Gabrielle Chanel membangun rumah modenya sebagai oposisi terhadap dunia sosial aristokrat yang kaku. Di Biarritz, ia melihat bagaimana perempuan membutuhkan pakaian yang memungkinkan mereka hidup di luar ruang tertutup: berjalan di pantai, berkendara, bergerak cepat, terkena matahari dan angin laut. Jersey—kain yang kala itu identik dengan pakaian dalam—diangkat menjadi simbol modernitas karena ringan dan lentur. Bagi Chanel, elegansi tidak boleh menghalangi tubuh.

Matthieu Blazy tampaknya memahami warisan itu bukan sebagai arsip visual, tetapi sebagai filosofi. Karena itu Cruise 2026/27 tidak terasa seperti sekadar koleksi luxury resortwear untuk kaum jet-set modern. Ia terasa seperti studi tentang kebebasan tubuh. Tentang bagaimana pakaian dapat hidup bersama lingkungan, bukan melawannya.
Salah satu aspek paling menarik dari koleksi ini adalah bagaimana Blazy mengaburkan batas antara realitas dan fiksi. Ia sendiri menyebut koleksi ini bergerak “from the functionality of the black dress to the fiction of mermaids.” Maka muncullah detail-detail yang terasa nyaris surealis namun tetap wearable: payet menyerupai sisik ikan, embroidery seperti jaring laut, pearl embellishments yang tampak seperti sisa air asin di kulit, hingga gaun transparan berkilau yang bergerak seperti makhluk laut mitologis.

Namun mermaidcore versi Chanel ini tidak pernah jatuh menjadi gimmick. Tidak ada kostum fantasi yang vulgar. Yang muncul justru semacam romantisisme pesisir yang dewasa dan melankolis. Kilauannya redup, nyaris seperti cahaya senja di atas Atlantik.
Atmosfer itu terasa hingga ke detail-detail paling kecil. Beauty direction koleksi ini memperkuat atmosfer tersebut dengan sangat presisi. Kulit para model tampak lembap dan bercahaya, tetapi bukan glass skin yang artifisial. Rambut mereka terlihat seperti habis terkena angin laut: sedikit kusut, bergerak alami, tanpa konstruksi berlebihan. Sementara manicure iridescent rancangan nail artist Ama Quashie menjadi salah satu detail yang paling banyak dibicarakan pasca-show. Kuku mutiara berkilau itu tampak seperti permukaan kerang yang terkena matahari, sebuah detail kecil yang berhasil menangkap keseluruhan mood koleksi.

Secara visual, show ini terasa sangat sinematik. Banyak editor mode menyebut atmosfernya mengingatkan pada dunia film Sofia Coppola: perempuan-perempuan elegan yang melankolis, luxury yang tampak intimate, dan kesepian yang indah di kota resort Eropa. Pacing runway dibuat lambat, nyaris meditatif. Tidak ada energi agresif atau kebutuhan untuk viral secara instan. Chanel tampak membiarkan mood berbicara lebih keras daripada spektakel.

Pilihan front row pun terasa sangat strategis dalam membangun narasi tersebut. Nicole Kidman membawa aura old-Hollywood glamor yang rapuh namun megah. Tilda Swinton memberi kredibilitas intelektual dan avant-garde. A$AP Rocky menghadirkan relevansi budaya kontemporer sekaligus energi maskulin yang cair.

Sementara Marion Cotillard menjaga hubungan Chanel dengan sinema Prancis dan tradisi arthouse Eropa. Alih-alih sekadar tamu selebritas, mereka menjadi karakter dalam semesta visual yang sedang dibangun Chanel.

Ada ironi menarik dalam keputusan rumah mode ini kembali ke Biarritz di tengah industri fashion yang semakin digital dan serba cepat. Kota tersebut sejak awal memang menjadi ruang pelarian bagi para seniman. Igor Stravinsky, Jean Cocteau, hingga Pablo Picasso pernah datang ke sana mencari ketenangan dan inspirasi. Pada 1918, Picasso bahkan melukis The Bathers di Biarritz saat berbulan madu bersama Olga Khokhlova. Di kota ini, seni, aristokrasi, pekerja, pelaut, dan wisatawan pernah berbagi ruang yang sama—sesuatu yang oleh Matthieu Blazy disebut sebagai “perfect balance between function and fiction.” Kalimat itu terasa penting untuk memahami arah Chanel hari ini.

Di tengah dominasi quiet luxury yang terlalu steril dan algoritma media sosial yang menuntut instant image-making, Cruise 2026/27 justru menawarkan sesuatu yang lebih lambat, lebih sensual, dan lebih manusiawi. Chanel tampaknya sadar bahwa kemewahan masa kini tidak lagi cukup hanya terlihat mahal. Ia harus memiliki emosi, tekstur, atmosfer, bahkan memori. Sebuah alasan mengapa show ini terasa begitu penting secara industri. Ini bukan sekadar debut Cruise Matthieu Blazy. Ini adalah momen ketika Chanel tampak mencoba menemukan kembali denyutnya sendiri.
Mungkin itu sebabnya Biarritz terasa begitu penting bagi Chanel hari ini: tidak hanya sebagai tempat untuk kembali bernostalgia, tetapi juga ruang untuk mengingat kembali mengapa rumah mode ini pernah mengubah cara perempuan hidup, bergerak, dan memandang kebebasan.